Tabanan (Antara Bali) - Sekelompok anak-anak usia sekolah dasar yang tampil menabuh gamelan, mengiringi prosesi ritual Melasti, yakni membersihkan "pratima" atau benda yang disakralkan mengawali perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1933 yang jatuh Sabtu (5/3).

Kelompok penabuh irama "bleganjur" pimpinan Nyoman Budarsana itu, menyertai iring-iringan umat Hindu mengusung "pratima" dari Desa Ole, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, menuju Danau Beratan, Bedugul, Selasa.

Wartawan ANTARA yang turut dalam kegiatan tersebut melaporkan, anak-anak usia sekolah dasar tersebut tampak begitu cakap memainkan sejumlah instrumen gamelan tradisional Bali.

Pemandangan tersebut tampak tidak seperti biasanya, di mana iring-iringan prosesi ritual Melasti yang menempuh jarak cukup jauh, biasanya selalu diiringi gamelan yang ditabuh sekelompok orang dewasa.

"Prosesi Melasti berdasarkan pedoman dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali dapat dilakukan sesuai kondisi setempat antara hari Selasa (1/3) hingga Jumat (4/3)," kata Ketua PHDI Provinsi Bali  Dr Drs I Gusti Ngurah Sudiana MSi.

Ia mengatakan, kegiatan ritual yang bermakna membersihkan "pratima" atau benda yang disucikan itu, dapat dilakukan ke laut bagi masyarakat yang bermukim di sepanjang pantai, atau ke danau bagi masyarakat di daerah pegunungan dan di sumber mata air yang jauh dari laut maupun danau.

Masing-masing desa adat di Bali dapat memilih salah satu dari empat hari baik yang ditetapkan untuk melaksanakan ritual Melasti tersebut, tutur Ngurah Sudiana.

Masyarakat Desa Adat Ole dan Desa Marga Dauh Puri, Kabupaten Tabanan, memilih hari Selasa (1/3) untuk melaksanakan ritual Melesti ke Danau Beratan, Bedugul, Kecamatan Baturiti, yang berjarak sekitar 15 km ke arah utara dari desa adat tersebut.

Ratusan warga berbondong-bondong mengikuti rangkaian upacara Melasti sambil membawa sesaji dan peralatan suci, diiringi alunan musik tradisional (gamelan) yang bertalu-talu. Kegiatan ritual tersebut berlangsung dari pagi hingga sore, baik di danau maupun di lingkungan Desa Adat Ole.

Sementara di desa adat lainnya, selain ada yang memilih hari pertama, juga bisa hari kedua, ketiga atau keempat sesuai pedoman majelis tertinggi umat Hindu di Bali.(*)


: Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026