"Subak juga berperan besar dalam mengentaskan kemiskinan dan pemberdayaan petani secara berkesinambungan," kata Prof Windia yang juga kepala badan penjamin mutu Universitas Udayana di Denpasar, Sabtu.
Ia mengatakan, pemerintah telah memanfaatkan organisasi pengairan tradisional sebagai wahana menyebarkan inovasi bidang pertanian.
Pada sisi lain, subak juga berperan aktif dalam menyaring inovasi yang sesuai dengan kondisi alam usaha tani di wilayah lingkungan subak masing-masing.
Prof Windia menjelaskan, dengan demikian inovasi sektor pertanian yang diadopsi petani itu sesuai dengan kondisi alam dan cocok bagi petani bersangkutan untuk diterapkan dalam aktivitas keseharian.
Kondisi demikian akan mampu menyadarkan petani bahwa meningkatkan keterampilan untuk mengelola usaha tani harus dilakukan secara terus menurus dalam memproduksi komoditas pertanian sesuai dengan kebutuhan pasar.
"Jika produksi pertanian yang dihasilkan mampu diserap pasar, secara tidak langsung mampu meningkatkan kesejahteraan petani, yang pada gilirannya mengentaskan masalah kemiskinan," tutur Prof windia.
Subak sebagai lembaga yang berwatak sosio-kultural memiliki kekuatan dan kearifan, yakni fleksibel dan mampu menyerap teknologi pertanian maupun menyerap kebudayaan yang berkembang pada masyarakat sekitarnya.
Dengan demikian, setiap kegiatan dalam subak selalu mencerminkan keseimbangan hubungan yang harmonis dan serasi sesama manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (Tri Hita Karana).
Kondisi demikian sekaligus mampu menjadikan subak memiliki sifat sosio-agro-spiritual, yakni selain melakukan praktek bertani secara berkelanjutan dan juga menjadi salah satu bagian terpenting dari kebudayaan Bali, tutur Prof Windia.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.