Denpasar (Antara Bali) - Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad, mencanangkan kawasan pantai Kutuh, Jimbaran, Kabupaten Badung, sebagai kawasan minapolitan dengan komoditas unggulan rumput laut.

Pencanangan itu dilakukan saat melihat dari dekat aktivitas dan berdialog dengan ratusan petani pembudidaya rumput laut yang terhimpun dalam lima kelompok di Kabupaten Badung, Jumat.

Di dampingi Ketua Dewan Pertimbangan Penasehat Presiden, Ginanjar Karta Sasmita, Fadel mengatakan, dengan dicanangkannya kawasan minapolitan dengan komoditi unggulan rumput laut, pemerintah melalui Kementerian kelautan dan perikanan (KKP) menyediakan insfrastruktur dan fasilitas yang diperlukan petani.

Selain itu juga membangun tempat penjemuran rumut laut sesuai persyaratan, tempat penyimpanan, dan proses pengolahan hingga menjadi mata dagangan siap ekspor.

Dengan demikian, petani pembudi daya rumput laut di sepanjang pantai Kutuh akan dapat melakukan aktivitasnya dengan baik serta menghasilkan mata dagangan yang mampu bersaing di pasar ekspor.

"Kalau ditotal, untuk semua kebutuhan petani itu, pemerintah harus mengeluarkan dana sedikitnya Rp1,5 miliar," ujar Fadel yang juga didampingi Wakil Bupati Badung I Ketut Sudikerta.

Fasilitas yang diperlukan itu diharapkan bisa dibangun secepatnya dalam tahun ini yang difasilitasi Dinas Perikanan dan kelautan Provinsi Bali maupun Pemkab Badung.

Adanya fasilitas yang memadai diharapkan petani pembudi daya rumput laut mampu meningkatkan produksi dua hingga empat kali lipat setiap tahunnya.

Ketua Kelompok petani rumput laut Desa Kutuh, I Ketut Lencana Yasa, menjelaskan, Pemkab Badung telah memberikan izin mengolahan lahan perairan seluas 70 hektare.

Dari lahan tersebut baru dimanfaatkan sekitar 20 hektare dengan hasil setiap tahunnya sekitar 600 ton. Panenan rumput laut dilakukan setiap 42 hari atau enam hingga delapan kali setiap tahun.

Pembudidayaan rumput laut menjadi andalan matapencaharian masyarakat Desa Kutuh, Jimbaran, Kuta selatan.

Meskipun sebagai pembudi daya rumput laut, kondisi masyarakat setempat hingga kini tidak ada masuk katagori miskin.

Hal itu berkat keuletan dan kerja keras mengembangkan budidaya rumput laut sebagai matadagangan ekspor, disampung diolah menjadi makanan dan minuman yang siap hidang.

Dengan pencanangan kawasan metropolitan diharapkan pengembangan rumput laut dapat dilakukan secara intensif memanfaatkan lahan yang ada secara maksimal, kata Lencana Yasa.(*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026