Pada pertandingan, di Gelora Sabilulungan, Soreang, Rabu, Shinta angkatan terbaiknya pada jenis snatch seberat 86 kilogram dan clean and jerk 106 kilogram begitu pula lifter Dwi M Lestari angkatan terbaiknya pada dua jenis angkatan tersebut sama.
Dengan demikian, Shinta asal Bali meraih medali emas karena berat badannya lebih ringan yakni 62,34 kilogram dan Dwi M Lestari berat badannya 62,36 kilogram.
Begitu pula untuk perebutan medali perunggu, terjadi perolehan total angkatan yang sama yakni antara lifter Lampung Okta Dwi Pramita dan lifter Papua Barat Naomi Rumbewas seberat 181 kilogram.
Medali perunggu milik lifter Papua Barat karena berat badannya lebih ringan dari Okta. Berat badan Naomi 61,68 kilogram dan Okta 61,86 kilogram.
Pada kelas ini, jenis angkatan snatch lifter Bali lainnya Ni Luh Eka Anggreni pada jenis angkatan snatch menempati posisi pertama karena bersama Shinta dan DWi M Lestari sama-sama meraih angkatan terbaik 86 kilogram, namun ia unggul lebih ringan berat badan.
Namun pada jenis angkatan clean and jerk, ia tidak mampu mengangkat barbel seberat 013 kilogram pada tiga kali kesempatan.
Sementara itu, Shinta mengaku ini PON keempat yang diikutinya. Ia juga berusaha melampaui rekor nasional pada jenis angkatan clean and jerk dari 122 kg menjadi 123 kg, namun gagal.
"Saya sudah melihat medali emas di tangan. Tadi mencoba apakah mampu untuk memecahkan rekor itu, tetapi gagal," katanya. (WDY)
Pewarta: Pewarta: Triono Subagyo: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.