"Permintaan bambu saat ini sudah mulai melonjak, karena masyarakat hindu di Denpasar sudah mulai membeli bahan-bahan ritual untuk membuat penjor," kata Wayan Seniasih (48), penjual sarana ritual umat hindu di Denpasar.
Ia mengatakan, saat ini rata-rata permintaan bambu mencapai 20 hingga 25 batang, dibandingkan enam bulan lalu yang hanya terjual 15 hingga 20 batang bambu per harinya.
Wayan Seni mengatakan, makna dari penjor tersebut, sebagi simbol "Naga Ananta Boga" (pemberi kemakmuran) saat perayaan Hari Raya Galungan di Pulau Dewata.
Pihaknya memprediksi, pada H-4 Galungan, jumlah permintaan bambu kembali meningkat dari hari sebelumnya.
"Untuk harga bambu yang dijual rata-rata bervariasi. Untuk bambu ukuran sedang dan kecil dijual dengan harga Rp25 ribu perbatang. Sedangkan, untuk ukuran besar dibandrol dengan harga Rp35 ribu," katanya.
Ia mengatakan, bambu yang dijualnya itu kebanyakan berasal dari Kabupaten Badung utara dan Bangli yang merupakan pusat bambu untuk bahan dasar penjor.
"Kami biasa memasok bambu dari daerah tersebut karena kualitasnya bagus, harganya murah, dan sesuai dengan permintaan masyarakat, khususnya untuk wilayah Denpasar," katanya.
Seniasih mengakui dapat memasok bambu hingga 250 batang untuk dijual menjelang Hari Raya Galungan karena permintaan pasar untuk bahan baku pembuatan penjor sangat tinggi. "Selain itu, keuntungan perbatang bambu tersebut cukup menggiurkan," ujarnya.
Hal yang sama juga dikatakan Ketut Mayun, pedagang sarana ritual di Pasar Kumbasari lainnya, mengaku penjualan bambu menjelang Hari Raya Galungan sudah mengalami banyak permintaan.
"Dalam sehari, saya bisa menjual 25 hingga 30 batang bambu per harinya," katanya. (WDY)
Pewarta: Pewarta: I Made Surya: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.