Denpasar (Antara Bali) - Bentara Budaya Bali (BBB), lembaga kebudayaan nirlaba Kompas-Gramedia di Ketewel, Kabupaten Gianyar, menggelar acara Timbang Pandang membahas "Fenomena Formalistik Seni Rupa Kita".

"Dialog tersebut menampilkan dua pembicara yakni Wicaksono Adi dan I Wayan Seriyoga Parta. Keduanya sama-sama kritikus dan kurator seni rupa," kata penata acara tersebut Putu Aryastawa di Denpasar, Jumat.

Ia mengatakan, dialog tersebut akan berlangsung Minggu (4/9) merujuk pada lahirnya fenomena seni rupa kontemporer yang belakangan ini menghadirkan pula bentuk-bentuk visual bersifat formalistik.

Hal itu ikut memicu kemajuan teknologi masa kini, yakni segala informasi hadir seketika dan serentak di ruang publik maupun pribadi.

"Fenomena itu bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di banyak belahan negeri lain. Seni rupa seakan berbenturan pandangan dengan keyakinan-keyakinan religius; tecermin adanya larangan terhadap karya-karya yang dianggap melecehkan," katanya.

Kedua pembicara Wicaksono Adi dan I Wayan Seriyoga Parta akan mencoba mencari jawaban dan merumuskan pandangannya atas fenomena tersebut, seraya merunut kembali sejarah seni rupa Indonesia yang ditandai aneka dinamika dan perubahan, meliputi pergulatan pemikiran, gagasan maupun praktik penciptaan.

Mulai dari Periode Perintis (1826-1880) oleh perupa Raden Saleh, kemudian periode Mooi Indie (mazhab Hindia Molek), dengan seniman seperti Abdullah Surio Subroto, Sujono Abdullah, Basuki Abdullah dan Wakidi.

Lahir Persagi di masa pergolakan nasional dengan seniman pelopor antara lain S. Sudjojono, Affandi berlanjut hingga ke masa pendudukan Jepang, lalu periode Akademi (1950), dinamika tahun 60-an, hingga tampilnya Seni Rupa Baru (1974).

Selain itu, akan ditelisik pula perihal mengapa muncul pertentangan antara seni dan keyakinan, padahal mulanya diyakini seni rupa adalah ekspresi religius, hingga praktik seni rupa di tengah aneka gejala semacam itu.

"Melalui timbang pandang kali ini diharapkan hadir satu pemahaman yang holistik terhadap dinamika terkini seni rupa kita guna mendorong atmosfer penciptaan yang lebih sehat dan kreatif, ditandai tumbuhnya kesadaran toleransi yang tinggi dan penghormatan pada keragaman tecermin pada buah cipta mereka," ungkap Putu Aryastawa yang juga staf BBB.

Wicaksono Adi, kritikus seni rupa serta penyair, akan menelusuri akar paradigma, terutama dari dasar dan posisi doktrin terkait bentuk-bentuk simbolik religius dan kecenderungan formalisme dimaksud.

Merunut sejarah perkembangannya, baik dalam seni religius tradisional pada masa awal masehi hingga masa modern dan kontemporer.

Sementara I Wayan Seriyoga Parta, akan mempresentasikan hasil kajiannya bersama Gurat Institute perihal seni dalam balutan religi di Bali, yang ditandai adanya persilangan yang eklektik secara evolutif dari sistim kepercayaan lama yang kemudian bertemu dengan berbagai sistim kepercayaan.

Awalnya, seni-seni di Bali adalah hasil karya yang bersifat kolektif, Dewa-dewa para penjaga sembilan penjuru mata angin, Raksasa, dan epos filosofis dalam kitab Itihasa; Ramayana dan Mahabarata dalam bentuk lukisan dan relief ukiran yang dibuat oleh para seniman.

Seriyoga Parta juga akan menelisik fenomena seni rupa kontemporer Bali, yang boleh jadi merupakan cerminan transformasi sosial kultural masyarakat. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026