Denpasar (Antara Bali) - Pejabat pada Dinas Lingkungan Hidup Kota Denpasar mengatakan, di wilayah ibu kota Provinsi Bali itu belakangan ini terdapat 18 titik yang rawan banjir.

"Titik rawan banjir atau timbul genangan setelah hujan lebat turun itu, tersebar di wilayah yang terhitung landai, seperti Sesetan, Padang Sambian dan Peguyangan Kangin," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Denpasar AA Bagus Sudarshana di Denpasar, Kamis.

Dia menjelaskan, selain di kawasan landai, ada juga titik rawan di sekitar daerah bantaran sungai serta pusat kota yang tidak luput dari rendaman air cukup tinggi setelah hujan lebat turun cukup lama.

Daerah pusat kota yang sering terendam itu, antara lain di sekitar Jalan Gatot Subroto dan Renon Denpasar.

"Penyebab terendamnya kawasan tersebut karena gorong-gorong tidak sanggup menampung volume air yang tinggi setelah hujan lebat. Hal itu diperparah dengan sampah yang menyumbat jalan air," ujar Bagus.

Selain itu, ujarnya, pipa-pipa saluran PDAM yang terpasang keberadaannya cukup menghambat aliran air yang melalui gorong-gorong.

Bagus mengatakan, salah satu solusi yang dilakukan pihaknya untuk mengurangi rendaman air di beberapa kawasan tersebut, adalah dengan membuat saluran air baru terutama di wilayah yang paling parah atau cukup sering terendam banjir.

"Selain dengan solusi tersebut, kami pun meminta supaya masyarakat mulai membiasakan menggunakan sumur serapan atau biopori," kata Bagus.

Sebab sumur serapan itu sangat berguna bagi lingkungan, yakni menyerap genangan air hujan sehingga bisa mengatasi banjir.

Pembuatan lubang resapan atau sumur biopori, adalah satu cara yang ditempuh Pemkot Bontang untuk mengatasi dan mencegah krisis air.

"Selain bisa mengatasi krisis air dan banjir, sumur tersebut juga bermanfaat untuk mengendalikan sampah," katanya.(*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026