Denpasar (Antara Bali) - Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengundang secara khusus Direktur Proyek Royal Darwin Hospital (RDH) Australia Prof Di Brown untuk memberikan masukan terkait penyempurnaan pembangunan RS Bali Mandara.

"Royal Darwin Hospital menjadi partner kita, terutama dalam pengendalian mutu. Makanya kita tanya masalah standar dokter, standar pelayanan dan perawatan serta standar fasilitas dan perlengkapan. Semua itu harus yang paling bagus di Bali," kata Pastika saat mengajak Di Brown meninjau lokasi pembangunan rumah sakit unggulan Pemprov Bali itu di Denpasar, Selasa.

Pastika berharap Di Brown tidak saja memberikan saran, namun juga kritikan demi meningkatkan standar kualitas RS Bali Mandara sebagai rumah sakit bertaraf internasional.

Menurut dia, hingga saat ini RDH masih menjadi tempat perbandingan pembangunan Rumah Sakit Bali Mandara. Mengingat dalam kunjungan kerja terakhirnya ke Australia baru-baru ini, Pastika melihat langsung kualitas pelayanan, terutama dalam penanganan kegawatdaruratan yang sangat prima.

Pastika ingin juga meniru integrasi dari lintas institusi dalam menangani suatu krisis di Negeri Kangguru itu. Dia menjelaskan di Darwin setiap ada masalah kegawatdaruratan berbagai elemen, seperti pemadam kebakaran, polisi dan rumah sakit secara bersama terjun menangani.

"Sebagai contoh, kepala rumah sakit di sana bertanggung jawab terhadap kecelakaan lalu lintas dan kebakaran, integrasi mereka sangat bagus sehingga pelayanannya cepat dan saya ingin hal itu juga diterapkan di sini," imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Pastika juga membeberkan rumah sakit andalan Pemprov Bali ini telah melalui perencanaan yang sangat matang dengan anggaran sekitar Rp300 miliar lebih, meliputi Rp100 miliar untuk perlengkapan dasar rumah sakit, interior Rp8 miliar dan fisik Rp200 miliar.

Ke depan, dia berharap rumah sakit itu akan saling melengkapi dengan RSUP Sanglah, dan tentu saja Jaminan Kesehatan Bali Mandara dan BPJS bisa digunakan, meskipun nantinya memakai embel-embel rumah sakit internasional.

Sementara itu, Di Brown mengungkapkan Bali dan Darwin sudah lama bekerja sama terutama dalam kegawatdaruratan melalui "National Critical Care and Trauma Response Centre" (NCCTRC).

Dia juga menyerukan harapan yang senada dengan Pastika akan kualitas rumah sakit yang berstandar internasional, dan dia yakin rumah sakit itu bisa sebagus RDH mengingat Bali mempunyai SDM yang berkualitas. Saat ini yang menjadi konsen masukan dia terhadap rumah sakit ini adalah pembangunan instalasi rawat darurat (IRD).

Karena, menurutnya, rumah sakit yang berkualitas harus mengutamakan pelayanan di bidang kegawatdaruratan. Jadi dia menyarankan agar menempatkan dokter dan perawat senior di IRD.

Hal lain yang menjadi sorotannya adalah sistem rawat inap yang masih menggunakan standar kelas, sementara di Australia pasien dikelompokkan berdasarkan penyakit. Dengan demimikian dokter spesialis beserta perawat lebih mudah mengontrol.

Menanggapi hal itu Pastika menyatakan jika sistem kelas dalam rawat inap sudah diatur dalam UU di Indonesia sehiungga hal itu tidak bisa dilanggar. Namun dia berharap sistem kelas dan sistem pengelompokan pasien berdasarkan penyakitnya bisa dikombinasikan.

Dia juga setuju terkait penempatan dokter dan perawat senior di IRD dengan tujuan untuk mendapatkan keputusan yang tepat dan cepat dalam menangani pasien. "Jadi dokter magang saya larang ditempatkan di IRD di rumah sakit ini," katanya.

Dia juga menegaskan bahwa rumah sakit itu adalah milik rakyat Bali dan karenanya pasien tidak akan dibeda-bedakan, meskipun ke depan bisa saja berfungsi sebagai "medical tourism" karena akan memiliki fasilitas lengkap dengan pelayanan prima.

Kerja sama Pemprov Bali dengan RDH rencananya akan semakin diintensifkan dengan mengirimkan sejumlah dokter muda, baik dokter dari kepolisian maupun dokter dari Rumah Sakit Sanglah untuk belajar di Royal Darwin Hospital dan di NCCTRC dalam kursus singkat selama 5 pekan.

RDH saat ini tengah menyosialisasikan alat yang disebut "Track Me Device" yang sangat memegang peran penting dalam keadaan gawat darurat. "Track Me Device" digunakan untuk mendeteksi keberadaan pasien/korban bencana pada saat situasi gawat darurat terjadi.

Alat berupa gelang yang dilengkapi dengan kode batang akan dipasang pada pergelangan tangan para korban dan tim kesehatan dapat memantau lokasi keberadaan korban serta kondisi korban dari sistem yang dihubungkan ke gelang tersebut. (WDY)

Pewarta: Pewarta: Ni Luh Rhismawati
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026