Bangli (Antara Bali) - Sejumlah warga di Kabupaten Bangli mengeluhkan kiriman janur untuk keperluan upacara asal luar karena menimbulkan gatal-gatal di tangan.

"Saya waktu iitu membeli janur di pasar Bangli dan setelah memegangnya kemudian tangan gatal-gatal. Padahal pada hari-hari sebelumnya tidak pernah terjadi seperti ini," kata I Putu Dian, salah seorang umat Hindu yang membeli janur di Bangli, Selasa.

Ia mengatakan, selain membuat gatal di tangan janur-janur itu juga menimbulkan bau menyengat, tidak seperti bau daun kelapa pada umumnya.

Menurut dia, temannya juga baru membeli janur dari pasar dan sampai di rumah tangannya langsung gatal-gatal, bahkan bengkak-bengkak.

Rahma Dewi, warga lainnya juga mengalami hal serupa. Salah seorang staf Humas Pemda Bangli itu mendengar kabar di masyarakat bahwa janur itu telah diberi pengawet formalin.

Selain awet, janur-janur itu warnanya juga terlihat lebih cerah, putih bersih dan selalu segar.

Sementara salah seorang pedagang Janur di Pasar Bangli, Ny Wayan mengaku tidak tahu kalau janur yang dipesannya langsung dari kawasan timur Indonesia itu mengandung pengawet dan membahayakan.

Katanya, selama ini dari pesanan yang dia lakukan tidak pernah mengalami kejadian seperti ini. "Mungkin ini karena hari raya besar di Bali dimanfaatkan oleh pengepul," katanya.

Dia mengakui telah mendengar ada pengguna janur yang mengalami gangguan pernafasan akibat terlalu lama berinteraksi dengan alat upacara umat Hindu itu.

Kata dia, bermacam-macam keluhan muncul mulai gangguan saluran pernafasan sampai bengkak di kulit serta baunya yang tidak sedap itu.

Namun dia sendiri mengaku tidak ikut terkena dampak daripada janur itu. "Mungkin karena saya tidak terlalu banyak memegang janur-janur itu. Beda dengan pembeli yang langsung menggunakan barang itu untuk membuat canang, sesajen dan alat upacara lainnya," katanya.

Terkait masalah itu, kata dia, pihaknya sudah komplain ke pengirim di luar pulau agar tidak lagi menggunakan pengawet untuk janur.(*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026