"Jangan main-main untuk bekerja sama karena Kemendikbud sudah menyiapkan sistem yang dapat mengukur kecurangan sekolah saat UN," kata TIA, di Denpasar, Kamis.
Menurut dia, salah satu indikator untuk mengukur kecurangan adalah dengan melihat jawaban siswa yang salah-salah. Kalau ternyata kesalahan jawaban siswa sama, apalagi itu terjadi pada sejumlah ruangan ujian berarti ada penggiringan jawaban. Di samping ada mekanisme lainnya yang dipakai Kemendikbud.
Oleh karena itu, dia mengingatkan jangan sampai para siswa mempercayai jika ada yang mengiming-imingi adanya kunci jawaban dan melakukan kerja sama, maupun ada pihak-pihak yang tidak berkepentingan menyiapkan jawaban soal yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
"Para pengawas juga kami harapkan agar benar-benar melakukan pengawasan sehingga tidak ada lagi barang-barang yang tidak semestinya seperti telepon genggam berada dalam ruang ujian," ucapnya.
Mantan Kepala Badan Diklat Provinsi Bali itu mengatakan semestinya sekolah dapat mengedepankan nilai-nilai kejujuran, apalagi UN sudah tidak menentukan kelulusan siswa lagi. Yang menentukan kelulusan siswa adalah sekolah atau satuan pendidikan masing-masing.
Semestinya UN kali ini juga tidak perlu lagi ada tekanan dari bupati/wali kota. Lain halnya dengan tahun-tahun sebelumnya, mungkin ada berbagai macam gerakan untuk menggolkan kelulusan siswa.
"Dalam UN, yang diutamakan adalah pemetaan supaya pemerintah itu tahu sejauhmana kemajuan dunia pendidikan kita. Apakah proses pembelajaran sudah berjalan dengan baik?" ucapnya.
Dia mencontohkan, ketika ada sekolah yang nilai UN untuk pelajaran Matematikanya kecil, mungkin disebabkan karena kurangnya tenaga pendidik. Demikian juga ketika nilai Biologinya jatuh ternyata dapat disebabkan karena sekolah tidak memiliki laboratorium.
"Hal-hal seperti ini yang ingin dipetkan pemerintah sehingga setelah selesai UN, tidak nilai lagi yang diumumkan, tetapi indeks integritas sekolah," ucapnya.
UN jenjang SMA/SMK sederajat di Bali yang akan dimulai pada 4 April 2016 akan diikuti oleh 56.309 orang yang terdiri atas siswa SMA (25.818), MA (959), SMALB (42), SMK (27.041), dan Paket C (2.449). Sebanyak 26 SMA/SMK di Bali menggunakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). (WDY)
Pewarta: Pewarta: Ni Luh RhismawatiEditor : I Made Andi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.