Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Selasa mengatakan bahwa nilai tukar rupiah mengalami koreksi seiring dengan tren harga komoditas yang cenderung masih menurun, di tengah situasi itu pelaku pasar khawatir belanja pemerintah berpeluang terganggu.
"Secara umum pelemahan harga komoditas masih akan menekan rupiah," kata Rangga Cipta.
Ia menambahkan bahwa jika penurunan harga komoditas, terutama minyak mentah mengurangi kemampuan belanja pemerintah untuk mendorong pertumbuhan maka pelemahan mata uang rupiah dapat berlanjut.
Di sisi lain, lanjut dia, pelaku pasar juga sdang fokus terhadap pengumuman data produk domestik bruto (PDB) 2015 Tiongkok, jika membukukan hasil diluar harapan pasar maka berpotensi mempertahankan sentimen pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
"PDB Tiongkok kuartal IV 2015 diperkirakan stabil di kisaran 6,8-6,9 persen secara tahunan, jika haslnya di bawah itu bisa memicu aksi jual di pasar Asia," katanya.
Sementara itu, analis PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong mengatakan bahwa sebagian pelaku pasar memperkirakan pertumbuhan ekonomi Tiongkok masih melambat, dipicu melemahnya output dan investasi. Pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap hasil PDB Tiongkok.
"Hasil rilis data PDB Tiongkok kuartal IV akan dsorot pasar, dimana diprediksi akan menunjukkan pertumbuhan tahunan terburuknya dalam 25 tahun terakhir," kata Lukman Leong. (WDY)
Pewarta: Pewarta: Zubi Mahrofi: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.