"Kita tidak bisa mendesain Bali mau dibawa kemana jika data masih minim. Contohnya kita belum punya data pasti di Karangasem ada berapa hotel, Gianyar berapa dan sebagainya," kata Ketua PHRI Provinsi Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati di sela-sela pengukuhan dirinya menjadi Ketua PHRI Bali periode 2015-2020 di Denpasar, Rabu.
Pria yang akrab dipanggil Cok Ace itu berpandangan persoalan kepariwisataan yang dihadapi Bali di era globalisasi kian rumit.
Mantan Bupati Gianyar itu mencontohkan masalah persaingan harga akhir-akhir ini memposisikan PHRI pada posisi sangat sulit yang disebabkan karena rasio antara permintaan dan penawaran akomodasi pariwisata yang tersedia sudah tidak berimbang.
Di sisi lain, saat ini yang menjadi anggota PHRI sekitar 1.500 pengusaha, tetapi pengusaha yang bergerak di sektor pariwisata sebenarnya jauh jumlahnya lebih banyak, yang artinya masih banyak yang belum terdata. Di samping perlu ada penegakan hukum bagi usaha yang tidak berizin.
"Kami sangat berharap, teman-teman Badan Pimpinan Cabang PHRI juga dapat bekerja sama dengan kabupaten/kota untuk membuat statistik pariwisata yang lebih akurat sehingga arah pariwisata ke depan dapat didesain dengan sebaik-baiknya," ujarnya.
Di samping itu, kata Cok Ace, pariwisata Bali juga dihadapkan pada isu eksploitasi sumber daya alam, ketersediaan energi, air dan juga persoalan SDM menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN.
Sementara itu Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta mengharapkan kerja sama yang lebih baik di sektor pariwisata.
"Apalagi dengan melihat banyak persoalan-persoalan akomodasi wisata yang telah menyebabkan persaingan tidak sehat," ujarnya.
Pihaknya mengkhawatirkan jika persaingan yang tidak sehat di sektor pariwisata terus terjadi maka pariwisata Bali lama-kelamaan menjadi tidak berkualitas. (WDY)
Pewarta: Pewarta: Ni Luh RhismawatiEditor : I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.