Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali mengalami tekanan bersama dengan mata uang lain di kawasan Asia seiring dengan semakin dekatnya rencana bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) menaikkan suku bunga acuan (Fed fund rate).
"Walaupun kenaikan Fed fund rate sudah diperkirakan, ketidakpastian masih menyelimuti pasar keuangan global mengenai seberapa cepat kenaikannya. Jika agresif bisa memberikan efek negative shock yang lebih hebat," katanya.
Selain fokus ke pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 15-16 Desember, dia menjelaskan, para pelaku pasar uang di dalam negeri juga menanti rilis data perdagangan Indonesia periode November 2015 serta kebijakan Bank Indonesia mengenai tingkat suku bunga acuan (BI rate).
Ia mengatakan surplus neraca perdagangan diperkirakan menipis karena harga komoditas dunia masih tertekan dan aktivitas impor yang meningkat menjelang akhir tahun.
BI rate juga diperkirakan sulit turun jika suku bunga acuan Amerika Serikat naik walaupun Bank Indonesia sudah memberikan sinyal pelonggaran moneter.
"Di tengah situasi itu, secara umum ruang penguatan dolar AS masih terbuka," katanya.
Analis pasar uang dari PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong mengatakan investor cenderung menahan diri untuk masuk ke aset mata uang berisiko menjelang pertemuan FOMC. (WDY)
Pewarta: Pewarta: Zubi MahrofiEditor : I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.