Denpasar (Antara Bali) - Nilai tukar petani (NTP) Bali sebesar 104,91 persen pada bulan Oktober 2015, melampaui angka tingkat nasional pada bulan yang sama hanya tercatat 102,46 persen.

"Kondisi itu menunjukkan tingkat kesejahteraan petani di Pulau Dewata lebih baik dibandingkan dengan rata-rata petani daerah lainnya di Indonesia," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Panusunan Siregar di Denpasar, Selasa.

Ia mengatakan, NTP Bali mengalami kenaikan sebesar 0,36 persen dari 104,54 pada bulan September 2015 menjadi 104,91 persen pada Oktober 2015. Sedangkan indeks yang diterima petani (It) mengalami kenaikan sebesar 0,41 persen dari 123,14 persen menjadi 123,65 persen.

Sementara dari sisi indeks yang dibayar petani (lb) mengalami kenaikan sebesar 0,05 persen dari 117,80 persen menjadi 117,86 persen.

Panasunan Siregar menjelaskan, dari lima subsektor yang menentukan pembentukan NTP Bali terdiri atas tiga subsektor mengalami kenaikan dan dua subsektor menurun.

Tiga subsektor yang andilnya mengalami kenaikan meliputi tanaman pangan sebesar 2,24 persen, hortikultura 0,91 persen dan tanaman perkebunan rakyat 0,50 persen.

Sedangkan dua subsektor yang mengalami penurunan terdiri atas subsektor peternakan 1,25 persen dan subsektor perikanan 0,66 persen.

Nilai tukar petani diperoleh dari perbandingan indeks yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani semakin tinggi NTP dan semakin kuat pula tingkat kemampuan daya beli petani.

NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian terhadap barang dan jasa yang diperlukan petani untuk konsumsi rumah tangga, ujar Panasunan Siregar. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026