Tanjung yang kini nyaris habis tergerus abrasi, oleh masyarakat muslim Jembrana disebut Ninjau Haji, yakni melepas secara beramai-ramai jemaah calon haji, demikian ANTARA dari Negara melaporkan, Kamis.
Habib Salim Bafaqih, salah seorang ulama di Jembrana mengatakan, nama Tanjung Tangis diambil dari air mata yang selalu tumpah saat harus melepas salah seorang anggota keluarga berangkat haji.
"Di tanjung itulah, keharuan seluruh keluarga jamaah maupun masyarakat tumpah. Karena kala itu, untuk berangkat haji hanya bisa ditempuh dengan jalur laut yang memakan waktu berbulan-bulan," kata Habib Salim.
Berbulan-bulan diombang-ambingkan ombak, dengan potensi kecelakaan yang cukup besar itu rupanya membuat keluarga jamaah khawatir. Meski ikhlas, perpisahan untuk sementara tapi juga bisa menjadi selamanya itu membuat air mata menetes.
Menurut Habib Salim, jika berjalan normal, rata-rata enam bulan setelah berangkat, seorang jamaah akan sampai kembali di Jembrana.
"Tapi ada pula beberapa jamaah yang memutuskan untuk menimba ilmu di Mekah, Madinah hingga Yaman sebelum pulang ke kampung halaman," ujar Habib Salim.
Dikatakan, bagi jamaah yang ingin mencari ilmu, bisa bertahun-tahun baru pulang dari tanah suci.
Di era modern ini, "ninjau haji" atau pelepasan jemaah calon hajin kini masih menjadi tradisi, tapi sudah jauh dari air mata. Justru keluarga maupun tetangga yang mengantarnya, sekaligus menggunakan momentum ini untuk pelesiran.
Sudah menjadi pemandangan umum saat pelepasan keberangkatan haji di Pelabuhan Gilimanuk, selalu dipadati kendaraan pengantar jamaah. Jika di masa pelepasan di Tanjung Tangis, keluarga maupun tetangga cukup hanya memandangi perahu yang semakin jauh dengan isak tangis, lain halnya dengan masyarakat yang kini mengantar ke Pelabuhan Gilimanuk.
Begitu bus-bus pengangkut jamaah masuk ke kapal dan berangkat, pengantar bukannya langsung pulang tapi malah mencari tempat wisata. Ada yang melanjutkan perjalanan ke lokasi-lokasi wisata di Banyuwangi, ada juga yang memilih daerah Pulaki di Buleleng sebagai tujuan.
Habib Salim menilai, meski sudah banyak mengalami perubahan karena dunia semakin modern, inti dari "ninjau haji" ini masih belum terkikis.
"Saya melihat ini sebagai bentuk kerukunan dari masyarakat muslim. Bagi yang kemudian terus berwisata, merupakan kegiatan sampingan sebagai sarana melepaskan penat bersama keluarga," ujarnya.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026