"Alat ini bisa menurunkan risiko cedera yang dialami pengemudi atau penumpang saat kecelakaan antara 50-60 persen," kata Kepala Divisi Inkubator Industri dan Bisnis ITB Sigit P Santosa, di Aula Timur Institut Teknologi Bandung, Senin.
Ia mengatakan alat tersebut merupakan pengembangan penelitian yang dilakukan oleh peniliti ITB tentang kelayakan tabrak kendaraan bermotor.
"Jadi bagaimana kita mendesain sebuah struktur yang bisa menyerap energi tabrakan sehingga tidak ditransmisikan ke penumpang, hancurnya di depan, dengan cara desain struktur," kata dia.
Ia menjelaskan pembuatan kolom rangka "crash box" ini akan membuat bagian depan mobil/kendaraan bermotor dapat berlipat secara berturut sehingga mengurangi energi tabrak.
"Dan 'crash box' ini dipasang di sisi kiri kanan dalam di antara bemper depan dan mesin mobil," kata dia.
Selain itu, lanjut dia, 'crash' box ini juga bisa dipasang di moda transportasi selain kendaraan roda empat yakni kereta dan pesawat terbang.
Menurut dia, saat ini 'crash box' tersebut sudah ditawarkan kepada pelaku industri otomotif di Indonesia. "Dan respon mereka bagus terhadap alat ini," kata dia.
Alat tersebut juga akan juga akan dibahas di Asean Automobile Safety Forum (AASF) Ke-3 Tahun 2015 yang berlangsung di Aula Timur ITB, Jalan Ganeca Kota Bandung, dari tanggal 21-22 September 2015. (WDY)
Pewarta: Pewarta: Ajat Sudrajat: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.