"Kenaikan itu karena indeks harga yang diterima petani (lt) mengalami kenaikan yang lebih besar daripada kenaikan indeks harga yang dibayar petani (lb)," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Panasunan Siregar di Denpasar, Jumat.
Ia mengatakan, indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 0,78 persen, sementara kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,56 persen.
Kenaikan harga yang diterima petani dipicu oleh naiknya harga-harga pada kelompok perikanan tangkap sebesar 1,17 persen dan budidaya perikanan 0,03 persen.
Panasunan Siregar menjelaskan, beberapa komoditas perikanan yang mengalami kenaikan harga antara lain ikan tongkol, tuna, cekalang, nila, mas dan ikan gurame.
Sementara itu ada kenaikan indeks harga yang dibayar petani didorong oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,77 persen serta biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) 0,07 persen.
Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri, Disperindag Provinsi Bali Made Suastika dalam kesempatan terpisah menjelaskan, harga rata-rata ikan tuna segar maupun yang sudah dibekukan hasil tangkapan nelayan di Bali naik dari bernilai 3,6 dolar AS awal 2014 menjadi 5,6 dolar pada periode tahun 2015 sehingga perolahan devisanya bertambah besar.
Adanya kenaikan harga rata-rata hasil laut itu di pasaran ekspor, sehingga volume perdagangan tuna dari Bali berkurang, namun perolehan devisanya bertambambah banyak
Realisasi ekspor tuna selama Januari-Juni 2015 hanya 6.812 ton seharga 38,7 juta dolar, sedangkan pada periode yang sama tahun 2014 mencapai 8.962 ton nmun nilainya hanya 32,3 juta dolar.
Jika dihitung volume perdagangan tuna segar maupun yang sudah dibekukan ke pasaran ekspor berkurang 24 persen periode awal 2015 jika dibandingkan Januasri-Juni 2014, namun dalam perolehan devisanya justru meningkat 19,7 persen.
Hal itu terjadi berkat harga rata-rata tuna di pasaran ekspor naik dari 3,6 dolar per kg awal 2014 menjadi 5,6 dolar per kg tahun 2015. Matadagangan ini sebagian besar ditujukan untuk memenuhi permintaan konsumen di AS dan Jepang.
Panasunan Siregar menambahkan, subsektor perikanan merupakan salah satu dari lima pembentukan NTP Bali. Dari lima subsektor itu tiga di antaranya mengalami peningkatan dan dua subsektor menurun.
Tiga subsektor yang mengalami kenaikan selain subsektor perikanan juga tanaman pangan sebesar 1,79 persen dan peternakan 0,28 persen.
Sedangkan dua subsektor yang menurun terdiri atas subsektor perkebunan 2,19 persen dan tanaman hortikultura sebesar 1,38 persen, ujar Panassunan Siregar. (WDY)
Pewarta: Pewarta: I Ketut SutikaEditor : I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.