Mangupura (Antara Bali) - Dewa Made Limun (60), korban bentrokan di Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, yang sempat menjlani operasi hidung, kini masih dirawat intensif di Ruang Tunjung RSUD Badung.

"Kondisi saudra saya masih cukup mengkhawatirkan, dan masih belum bisa makan karena luka di hidungnya yang cukup parah," ujar Gede, salah seorang kerabat korban di Badung, Kamis. 

Dikatakan, operasi yang dijalani saudaranya itu memang cukup berhasil sebab hidungnya sudah kembali pada kondisi normal.

"Hidung saudara saya itu dipasangi alat khusus dari besi untuk mengembalikan posisi tulang hidungnya yang hancur," katanya.

Dua kelompok warga dari dua banjar berbeda yang berada di wilayah Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, Selasa (19/10) sore sekitar pukul 16.30, terlibat bentrok. 

Kelompok warga Banjar Cemagi terlibat saling lepar batu dengan kelompok warga Banjar Balai Agung selama hampir dua jam.

Untungnya akibat aksi lempar batu kedua kelompok warga satu desa itu tidak menimbulkan korban jiwa. Hanya beberapa warga dari kedua kelompok warga tersebut mengalami luka ringan.   

Di sisi lain, Gede mengatakan, saat peristiwa bentrok terjadi, korban sedang berada di luar pura menunggu giliran masuk untuk melakukan persembahyangan dengan sanak saudaranya.

"Saat itu, saudara saya sedang berada di luar pura, tiba-tiba saja ada batu nyasar yang mengenai hidungnya," ujarnya.

Dikatakan, selain Dewa, kakaknya juga dipukul oleh seseorang tak dikenal tanpa sebab yang jelas. Akibatnya, kakaknya Dewa juga mengalami luka di sebelah kanan.

Sementara itu selain Dewa, I Made Diartana (32), korban lainnya juga terlihat sedang menjalani pengobatan di rumah sakit tersebut.

Dia mendatangi RSUD Badung ditemani oleh kerabatnya untuk melakukan pemeriksaan ulang jahitan di pelipisnya.

"Luka jahitan saya terasa gatal, mungkin perbannya harus diganti," ujar Diartana saat ditemui di ruang informasi RSUD Badung.

Selain ada jahitan di pelipisnya, di mata kirinya terlihat luka lebam yang cukup jelas dan.(*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026