Denpasar (Antara Bali) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali mengimbau pelaku usaha yang selama ini banyak membutuhkan produk impor untuk melakukan penyesuaian harga menghadapi melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS.

"Di sisi lain, pengusaha hotel yang dulunya saat masih membangun hotel menggunakan pinjaman luar negeri dan beberapa makanan dan bahan pendukung dari impor, jadi harus menyesuaikan harga," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Dewi Setyowati di Denpasar, Jumat.

Langkah tersebut merupakan salah satu upaya menjaga ekonomi di tengah melemahnya mata uang Rupiah khususnya pelaku usaha yang selama ini membutuhkan produk dari luar negeri.

Namun, Dewi mengungkapkan tidak semua sektor terdampak akibat menguatnya mata uang dolar AS tersebut.

"Barang kali hanya beberapa sektor usaha tertentu yang mengalami penurunan permintaan, laba dan NPL (kredit bermasalah) yang meningkat tetapi ini masih dalam kendali," ucapnya.

Ia menyontohkan bahwa menguatnya dolar justru mendongkrak minat belanja wisatawan mancanegara karena nilai tukar yang lebih besar didapatkan.

Wisman seakan mendapatkan "keuntungan" di tengah melemahnya mata uang Rupiah. Di sisi lain sektor ekspor juga menguntungkan karena nilai mata uang dolar AS menguat.

Dewi menuturkan bahwa kondisi melemahnya mata uang nasional tidak hanya dialami oleh Indonesia namun beberapa negara dengan ekonomi bertumbuh seperti di kawasan ASEAN yakni Thailand.

Khusus untuk sektor pariwisata di Bali, pihaknya belum melihat adanya dampak yang signifikan.

Pariwisata di Pulau Dewata malah lebih terdampak akibat penutupan Bandara Ngurah Rai akibat erupsi Gunung Raung di Jawa Timur karena banyaknya wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang membatalkan agenda wisatanya karena gagal berlibur di Bali. (WDY)

Pewarta: Pewarta: Dewa Wiguna
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026