"Nilai tukar rupiah bergerak menguat tipis, namun masih belum ke luar dari tren pelemahan. Dolar AS masih cenderung kuat di kawasan Asia," kata Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, adanya optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi nasional ke depan yang mulai muncul mencegah mata uang rupiah untuk kembali bergerak melemah, tentu dibantu juga oleh intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar valas domestik yang cukup aktif.
"Tetapi intervensi bisa berujung pada penurunan cadangan devisa yang sangat menentukan tingkat kenyamanan investor asing. Data cadangan devisa Juli sedianya akan dirilis pada hari Kamis (7/8)," katanya.
Dari eksternal, ia menambahkan bahwa rupiah juga sedikit mendapatkan sentimen positif dari data klaim pengangguran Amerika Serikat yang meningkat menjadi 270.000, situasi itu dapat menurunkan harapan kenaikan suku bunga AS.
"Namun, harga minyak dunia yang masih berada dalam tren penurunan masih dapat menopang dolar AS untuk kembali bergerak naik," katanya.
Analis Pasar Uang Bank Mandiri, Rully Arya Wisnubroto menambahkan bahwa masih kuatnya harapan pasar terhadap peneyerapan belanja modal pemerintah yang akan maksimal pada semester II tahun ini masih menjaga mata uang rupiah tidak tertekan lebih dalam.
"Belanja pemerintah secara sektoral mulai ada perbaikan, diharapkan menopang perekonomian Indonesia ke depan. Situasi itu akan mengembalikan kepercayaan pasar keuangan terhadap pemerintah," katanya. (WDY)
Pewarta: Pewarta: Zubi MahrofiEditor : I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.