Singaraja (Antara Bali) - Satu keluarga korban angin puting beliung 15 Desember 2009 yang tinggal di Jalan Pidada, Kelurahan Banyuasri, Kabupaten Buleleng, Bali, mengaku dibohongi oleh pemerintah setempat.

Gede Arsa Yana (37) di Buleleng, Rabu mengemukakan bahwa sudah ada beberapa instansi yang mendata kerusakan saat kejadian itu, termasuk Bupati Buleleng Putu Bagiada langsung datang dan menjanjikan mengganti rugi.

"Rumah dan harta benda saya hancur semua, termasuk tiga sepeda motor disapu angin puting beliung yang berlangsung sekitar pukul 18.00 Wita," katanya.

Selain kerugian material, katanya, adik kandungnya Komang Suardana Giri (23) sampai saat ini masih menderita cacat kaki akibat ratusan paku yang menancap di paha hingga betisnya.

Kakeknya Ketut Jingga (110) juga mengalami luka akibat terjangan angin yang menyusul terjadi di Desa Gesing, Kecamatan Banjar, kabupaten utara Pulau Dewata itu.

Arsa yang keseharian sebagai nelayan ikan hias tersebut mengaku hanya sempat menerima bantuan berupa lima kaleng ikan sarden dan mie instan serta beras lima kilogram yang hanya sekali diberikan oleh dinas sosial.

Menurutnya, dari pendataan sejumlah dinas yang datang ke lokasi termasuk Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Sosial Kabupaten Buleleng, jumlah kerugian saat itu tercatat hampir mencapai Rp100 juta, khusus untuk bangunan.

"Karena selain bangunan, ada tiga sepeda motor yang hancur serta tembok rumah saya yang miring dan menjadi saksi atas janji pejabat-pejabat di Buleleng saat itu," kata Arsa.

Bukan hanya itu, katanya, akibat kejadian tersebut juga berimbas kepada sejumlah usaha ikan hias yang menggantungkan sirkulasinya kepada kolam sementara di dalam kawasan itu.

Selain kelompok Arsa, ada pula kelompok nelayan ikan hias yang menyetorkan tangkapan mereka dan memasarkan hasil mereka melalui kolam kelompok yang ada di Jalan Pidada itu.

Arsa juga membandingkan dengan kerugian yang ditimbulkan akibat peristiwa yang berlangsung di acara lomba gerak jalan 45 kilometer yang langsung mendapatkan bantuan.

"Begitu usai kejadian mereka langsung disantuni, padahal ekonomi mereka mapan dan kerugian bukan karena bencana tapi konflik akibat dendam. Sementara kami yang hanya rakyat kecil, malah dijadikan permainan," ucap Arsa.

Sementara, beberapa kepala dinas terkait di Buleleng belum berhasil dikonfirmasi atas pengakuan Arsa tersebut.(*)




: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026