Mataram (Antara Bali) - Warga Suku Sasak di Dusun Sade, Kabupaten Lombok Tengah, masih mempertahankan tradisi menyimpan padi dalam lumbung beras yang menjadi daya tarik wisata sekaligus mendukung pertanian gogo rancah yang sukses diaplikasikan di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

"Mayoritas masyarakat Sasak memiliki mata pencaharian sebagai petani. Mereka panen sekali dalam setahun dan hasil pertanian masih tetap disimpan di rumah lumbung beras," kata pemandu wisata di objek wisata Kampung Sasak, Gomboh di Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Jumat.

Dia menjelaskan bahwa satu lumbung beras beratapkan ilalang dengan model bangunan tradisional limas tersebut digunakan oleh lima hingga enam kepala keluarga yang bermukim di kampung tradisional itu.

"Kampung Sasak terdapat 150 kepala keluarga atau sekitar 700 jiwa. Mereka mayoritas petani disampig berjualan cinderamata," ucapnya.

Setiap lumbung beras didirikan tepat di tengah-tengah rumah tradisional di desa tradisional seluas sekitar lima hektare itu.

"Mereka memanen hasil pertanian sekali dalam setahun dengan metode tadah hujan," imbuh Gomboh.

Metode tadah hujan merupakan metode yang kerap digunakan dalam pertanian gogo rancah atau gora.

Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Provinsi NTB, Budi Subagio ditemui saat studi banding Biro Humas Pemprov Bali bersama awak media dari Pulu Dewata di Mataram, Kamis (12/3) menyatakan bahwa pertanian gogo rancah mencapai puncak sejak tahun 1984 yang mendukung provinsi itu surplus pangan khususnya padi.

Selama tahun 2014, NTB surplus beras sebesar 761.006 ton dari total produksi beras/pipilan kering/biji kering sebanyak 1.314.869 ton. Sedangkan total kebutuhan di NTB sendiri hanya mencapai 553.683 ton. (ADT)

Pewarta: Oleh Dewa Wiguna
Uploader : Dewa Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © ANTARA 2026