"Optimisme itu didorong oleh masih tingginya pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR)," kata Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali Dewi Setyowati dalam Seminar Economic Outlook 2015 di Denpasar, Kamis.
BI mencatat pertumbuhan ekonomi di Bali selama tahun 2014 mencapai hingga kisaran 6,4 persen.
Selain itu, lanjut dia, kuatnya konsumsi, membaiknya iklim investasi seiring penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 dan membaiknya iklim ekspor mendongkrak pertumbuhan ekonomi Bali.
Pertumbuhan sektor PHR didorong tingginya perkiraan kegiatan "meeting, incentive, conference dan exhibition" (MICE) tahun 2015 serta pembebasan visa masuk bagi wisatawan dari lima negara yaitu Tiongkok, Australia, Rusia, Jepang, dan Korea Selatan.
"Pertumbuhan juga didorong biaya wisata murah ke Bali meskipun awal tahun terdapat `travel advise` dari Australia dan Amerika Serikat pada awal tahun," ucapnya.
Perkiraan menguatnya konsumsi sejalan dengan hasil survei BI yang menunjukkan membaiknya harapan pendapatan seiring dengan stabilnya harga sejumlah kebutuhan.
Konsumsi itu, lanjut Dewi, juga diperkuat oleh meningkatnya anggaran pendapatan dan belanja daerah baik tingkat provinsi dan kabupaten/kota 2015.
Sedangkan pengingkatan ekspor didukung dengan membaiknya ekonomi Amerika Serikat yang merupakan negara utama untuk pakaian jadi dan furniture.
Positifnya pertumbuhan ekonomi Bali juga didongkrak dengan meningkatnya investasi di antaranya investasi bangunan terkait dengan rencana pembangunan jalan tol menuju Singaraja dan Gilimanuk serta investasi untuk perbaikan irigasi.
"Iklim investasi akan semakin kondusif melalui pelayanan terpadu satu pintu yang baru diresmikan 26 Januari lalu," ujarnya. (WDY)
Pewarta: Oleh Dewa Wiguna: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.