Gianyar (Antara Bali) - Untuk menjaga keamanan dan kenyamanan di tengah membludaknya pengunjung ke Pasar Seni Sukawati, pengelola pasar setempat melibatkan aparat pengamanan adat atau sering disebut "pecalang".
"Kami menempatkan empat petugas pengamanan tradisional 'pecalang' di beberapa titik di Pasar Seni Sukawati," kata Kepala Pasar Seni Sukawati, I Nengah Nama Artawa, Minggu.
Penempatan pengamanan tradisional itu, kata Nama Artawa, ialah untuk membantu aparat kepolisian Gianyar menjaga keamanan dan kenyamanan di tengah ramainya wisatawan domestik berkunjung ke pasar seni tradisional itu. "Saat kunjungan ramai biasanya copet juga banyak, untuk itu kami melibatkan petugas pengamanan secara tradisional," jelasnya.
Selain petugas pengamanan tradisional, ujar Nama Artawa, pengamanan pasar juga dilakukan dengan mengerahkan Satpam juga dilakukan. "Sebelumnya kami terjunkan empat orang Satpam dari pasar, sekarang kami tambah menjadi lima orang," katanya.
Ia mengatakan saat ini, penunjung wisatawan ke Pasar Seni Sukawati meningkat tajam dari biasanya. "Peningkatan hampir 100 persen, hal ini biasa terjadi setelah hari Lebaran," katanya.
Ia mengakui kemacetan terjadi, tetapi tidak terlalu parah, karena aparat sudah jauh-jauh hari mengantisipasi masalah itu. "Supaya kemacetan tidak terlalu parah, aparat kepolisian membuka satu jalur di depan pasar seni Sukawati," ujarnya.
Ia menjelaskan rata-rata yang berkunjung ke pasar seni itu adalah wisatawan domestik. "Wisatawan asing jarang kelihatan, lebih banyak pengunjung dari Jawa serta luar pulau Jawa," katanya.
Yanti, salah seorang pengunjung asal Jawa Timur, mengaku ia sengaja datang ke pasar seni Sukawati, karena pasar seni itu dikenal menjual barang seni murah meriah. "Ya sebagai oleh-oleh buat keluarga kami datang berkunjung ke pasar tradisional ini," kata wanita berkulit putih itu.
Untuk menangani kemacetan petugas mengoperasikan pos keamanan, kata Sujana, yang beroperasi selama 24 jam untuk menjaga keamanan dan kenyamanan hari Lebaran. (*)
Editor : Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.