"Sapi bali merupakan hasil domestikasi banteng (Bos Javanicus) yang diperkirakan terjadi pada sekitar 3.500 tahun sebelum Masehi," katanya, di Denpasar, Minggu.
Ia mengatakan sapi bali menarik untuk dikembangkan karena memiliki beberapa keunggulan, antara lain tahan terhadap kondisi lingkungan yang kurang baik, mudah berhadaptasi dengan lingkungan baru, cepat berkembangbiak dan persentase karkas tinggi.
"Dari hasil penelitian, sapi bali juga sebagai pekerja yang baik dan efisien," kata guru besar Fakultas Peternakan Unud itu.
Menurut dia, sapi bali telah dikembangkan secara nasional, yakni ke daerah Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatra.
"Bahkan diperkirakan populasi sapi bali kini telah mencapai 4,5 juta ekor di seluruh Indonesia. Dan di Bali sendiri sekitar 700 ribu ekor," kata lelaki asal Kabupaten Karangasem ini.
Menurut Supartha, diperlukan upaya-upaya teknik tepat guna dalam pengembangbiakan sapi bali tersebut, apalagi dalam upaya pengembangan agribisnis sapi potong.
Ia mengatakan beberapa persoalan pokok yang dihadapi dalam pengembangan agribisnis sapi potong, antara lain kurangnya modal usaha, kurangnya penerapan sistem dan usaha agrobisnis dengan baik serta terjadinya degradasi genetik sapi bali sebagai akibat dari adanya seleksi negatif.
"Dampak akhir dari degradasi tersebut adalah peternak belum mampu meningkatkan kesejahteraannya secara siginifikan, karena margin keuntungan yang diterima oleh peternak relatif kecil," katanya.
Bila hal itu terus terjadi, kata dia, maka motivasi peternak untuk melakukan usaha sapi bali akan makin berkurang.
Ia mengatakan, Bali membutuhkan peningkatan mutu bibit sapi, sistem manajemen dan teknologi tepat guna, serta penyediaan pakan agar memenuhi kebutuhan dan permintaan pasar yang semakin meningkat.
Apabila hal ini bisa dilakukan dengan baik dan harga cukup memotivasi peternak, lanjut Prof Supartha, maka populasi serta produksi akan meningkat.
"Jika ini bisa dilakukan kami yakin impor sapi dapat dikurangi dan sekaligus memberi ruang bagi para peternak untuk memperoleh nilai tambah yang lebih baik," ujarnya.
Karena itu, menurut dia, diperlukan intensitas penelitian yang lebih terarah dalam berbagai aspek sapi bali serta kajian-kajian yang mendalam bersumber dari hasil penelitian emperis tentang pengembangan sapi bali.
"Beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian, di antaranya pakan dan nutrisi, pemulihan, reproduksi ternak, produksi daging, sumber daya lahan termasuk juga mekanisme dan pengolahan limbahnya," kata Prof Supartha.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.