"Mendekati penghujung tahun 2014, laju nilai tukar rupiah terlihat mampu berbalik positif di pasar valas dalam negeri meski dolar AS cenderung menguat di pasar global," kata Kepala Riset Woori Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Selasa.
Ia menambahkan bahwa pemerintah yang merencanakan untuk mengumumkan kebijakan baru terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang akan disesuaikan kembali menjadi salah satu sentimen positif bagi mata uang domestik.
Kendati demikian, menurut dia, penguatan rupiah saat ini belum mengkonfirmasi secara berkelanjutan, masih adanya sentimen pemulihan ekonomi Amerika Serikat tetap akan membayangi laju mata uang berlambang Garuda itu.
Ia mengemukakan bahwa Amerika Serikat akan merilis beberapa data-data ekonomi diantaranya tingkat keyakinan konsumen dan klaim pengangguran yang diekspektasikan positif.
"Sentimen global masih akan menyelimuti sehingga tetap waspadai potensi pelemahan rupiah," katanya.
Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta menambahkan bahwa sentimen eksternal lainnya yang membayangi laju mata uang rupiah yakni situasi politik di Yunani yang memanas, kondisi itu dapat menjadi salah satu penahan laju mata uang rupiah bergerak menguat lebih tinggi pada akhir tahun 2014 ini.
"Risiko yang meningkat di Yunani dapat berdampak negatif ke pasar negara berkembang, sehingga ruang pelemahan rupiah masih ada," katanya. (WDY)
Pewarta: Oleh Zubi Mahrofi: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.