Tabanan (Antara Bali) - Satwa banteng (Bos javanicus) akan terbebas dari kepunahan jika ekosistem di Taman Nasional Alas Purwo dan Baluran di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur tetap dapat terjaga dengan baik.

"Selain ekosistem harus tetap terjaga, banteng juga akan tetap bisa bertahan di habitatnya bila tidak ada orang yang mengusiknya," kata Ketua Association for Tropical Biology and Conservatioan Asia Pacific Chapter, Dr Mochamad Indrawan di Tabanan, Bali, Jumat.

Ia menyebutkan, keberadaan banteng di Taman Nasional Alas Purwo dan Baluran, kini cukup memprihatinkan karena populasinya terus menurun.

"Masalah utamanya terkait perekonomian masyarakat sekitar yang kurang bagus hingga mendorong mereka melakukan perburuan liar," kata Dr Indrawan.

Menurut Indrawan, sebenarnya kondisi seperti itu juga terjadi di negara-negara lain dan kuncinya adalah pembinaan habitat harus dikaitkan dengan pembangunan ekonomi masyarakat setempat.

"Pemerintah daerah perlu lebih mendukung konservasi termasuk mengalokasikan dana.  Bila dikelola dengan baik, maka taman nasional bisa memberikan jasa lingkungan, dan aset wisata alam," kata Indrawan di sela-sela pertemuan para peneliti muda di kawasan Asia Pasifik, di Kebun Raya Bedugul, Tabanan.

Ancaman yang tak kalah pentingnya di kedua taman nasional itu, berasal dari perubahan habitat yang ditandai dengan telah berkurang dan terdegradasinya safana untuk habitat banteng.

"Ketiadaan sinar matahari yang cukup, serangan spesies tumbuhan asing, dan perubahan iklim turut mendorong perubahan habitat," kata Indrawan yang juga Sekretaris Pusat Strategi Keanekaragaman Hayati Universitas Indonesia.

Sejauh ini, pihak Balai Taman Nasional Alas Purwo telah melakukan berbagai upaya terhadap keberadaan banteng, antara lain memberi perlindungan terhadap satwa langka itu dengan menyediakan habitat seperti pembuatan safana maupun pemeliharaan bambu sebagai makanan yang disukai banteng.   

"Penegakan hukum atau law enforcement kami lakukan, baik di kawasan maupun di luar kawasan, dengan menindak pelaku perburuan satwa langka seperti banteng sesuai aturan hukum yang ada," kata Dian Sulastini, petugas pengendali ekosistem hutan Alas Purwo.

Di pihak lain, keberadaan Taman Nasional Alas Purwo dan Baluran telah menjadi salah satu obyek penelitian 20 ilmuwan muda dalam pelatihan tentang penelitian tumbuhan, serangga, mamalia dan burung.

Para ilmuwan muda terpilih itu selama enam minggu melakukan penelitian di Alas Purwo dan Baluran serta Gunung Rinjani, Lombok. Penelitian antara lain juga menyangkut isu-isu konservasi hutan tropis yang dihadapi.

"Mereka juga meneliti tentang interaksi antara pembangunan berkelanjutan dan konservasi, dan dibekali pengetahuan teknik untuk studi dan pengelolaan habitat tropis," ujar Indrawan didampingi koordinator pelatihan, Rhett Harrison dari Xishuangbanna Tropical Botanical Garden (XTBG), China. (*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026