"Kami minta Tim Yustisi Bali tidak mencabut atribut yang dimaksud. Karena kedua tulisan tersebut adalah identitas armada kami," katanya di Denpasar, Rabu.
Seusai bertemu dengan tim yustisi itu, ia mengatakan, kedatangan 10 orang perwakilan SP Bali Taksi untuk mewakili 1.500 pekerja bertemu dengan tim tersebut.
"Dengan terhapusnya tulisan tersebut tampaknya akan sangat besar dampaknya. Selain hilangnya kepercayaan, juga akan berdampak bagi pendapatan pengemudi," ucap Sulendra yang didampingi Sekretaris SP Pengemudi Bali Taksi Gede Suartha.
Kegelisahan para pengemudi memang bisa dimengerti, sebab jika tulisan tersebut dilepas maka Manajemen Blue Bird Group akan lepas operasional.
"Apa salah pengemudi Bali Taksi sehingga harus kena hukuman seperti ini? Kami kan memberikan pelayanan yang baik tetapi malah dilucuti," kata Sulendra.
Dikatakan, kedatangan SP bertemu tim yustisi menjadi puncak kekhawatiran para pekerja. Tercatat lebih dari 1.500 orang menggantungkan nasib pada perusahaan jasa angkutan ini.
"Kami makan apa? Lalu siapa yang akan menanggung hidup kami?" kata Suartha.
Diakui, alamat portal www.bluebirdgroup.com merupakan salah satu media komunikasi umum digunakan dewasa ini, baik pribadi maupun perusahaan. Tentunya hal ini seiring dengan perkembangan teknologi informasi.
"Hal tersebut seharusnya menjadi sesuatu yang wajar dan jangan terkesan pihak pemerintah tidak tanggap atau tidak mengakomodasi perkembangan teknologi yang sangat membantu layanan pelanggan," katanya.
Ketua Tim Yustisi Bali I Ketut Wija menyatakan, akan mendengarkan masukan dari pihak SP.
"Kami akan mendengarkan apa yang menjadi permintaan SP. Kami akan menjadikan hal ini sebagai masukan. Kami akan membahas dengan tim," katanya.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.