"Ada 23 titik titik rawan genangan air yang diantisipasi, sehingga jika terjadi banjir diharapkan tidak sampai menimbulkan kerusakan parah," ujarnya di depan pimpinan redaksi media massa di ruangan kerjanya, Selasa.
Pimpinan media massa yang ahdir antara lain Kepala LKBN Antara Bali I Made Tinggal Karyawan, Pimred SKH Warta Bali/Ketua PWI I Gusti Dwi Kora Putra, Pimred SKH Pos Bali Suyadnya, Pimred SKH Fajar Bali Emanuel Dewata Ojja (EDO), Pimred SKH Nusa Bali, Naria, Pimpinan Umum/Pimpinan Redaksi SKM Koran Metro, Dewa Sastra Sutadinata, Pimred SKH Bali Tribun dan Dewata TV.
Ia menjelaskan, infrastruktur yang ada sekarang sudah sangat rapuh karena dibangun tahun 1970, sehingga sudah saatnya memang diperbaiki secara bertahap, agar kerugian akibat banjir berkurang.
Menurut dia, beberapa titik rawan banjir seperti Perumnas Monang Maning, Renon, Warung Mina dan Bumi Ayu Sanur sudah diprogramkan segera diatasi dengan peralatan pompa.
"Mudah mudahan jika pekerjaan di Bumi Ayu selesai, genangan air di sejumlah titik bisa juga teratasi, demikian juga ada titik rawan yang berhubungan ke Kuta mudah mudahan banjirnya berkurang," ujarnya.
Ia menjelaskan, dahulu saat infrastruktur dibuat memang tidak mengantisipasi perkembangan kota seperti sekarang. Sekarang rumah sangat banyak mengakibatkan tingkat serapan air juga sedikit, sehingga harus banyak volume air yang perlu dialirkan ke laut melalui sungai.
"Masalah ini sudah dikoordinasikan dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat agar bisa diatasi secara berama sama," ujarnya.
Menurut ia, di daerah Kenyiri dilakukan perbaikan lingkungan namun masih banyak masyarakat saat musim hujan buang air dan sampah ke selokan sehingga aliran air menjadi mampet.
Padahal, kata Wali Kota, sudah ada perda yang memberikan hukuman Rp5.000.000 dan tiga bulan kurungan bagi yang membuang sampah seenaknya.
Ia menjelaskan, pemerintah kota memiliki cara lain dengan membangun bank sampah yang kini terus disosialisasikan. Bahkan ada masyarakat di Abian Kapas yang sudah memiliki tabungan Rp1,7 juta dalam waktu tiga bulan dengan menjual sampahnya yang disimpan di bank sampah.
Menurut dia, masyarakat biasanya membuka bank sampahnya setiap satu atau dua minggu, sedangkan sampah yang terkumpul langsung dijual pemiliknya untuk membantu membiayai kebutuhan hidup sehari hari termasuk membayar listrik atau uangnya ditabung.
"Kalau tidak ada bank sampah bisa dibayangkan tumpukan sampah di sungai akan sangat banyak sehingga bencana banjir tidak bisa dihindarkan," ujarnya.
Wali kota menambahkan, pemerintah kota juga mengasuransikan 50 ribu pohon terutama di sejumlah jalan dan fasilitas umum, sehingga bila masyarakat tertimpa pohon terutama saat musim hujan ini berhak mendapatkan asuransi.(MFD)
Pewarta: Oleh Mayolus Fajar: Mayolus Fajar Dwiyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.