Setelah Gusti Ketut Warsa (48), warga Desa Batu Agung, Senin (17/11) ditemukan tewas gantung diri, diduga karena frustasi menderita penyakit kusta, mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri juga dilakukan Ni Ketut Suartini, warga Kelurahan Sangkaragung, Selasa.
"Saya temukan bibi saya tersebut di kebun saat hendak mencari makanan sapi. Ada luka di perut bagian kiri," kata Wayan Merta, keponakan korban, yang sehari-hari tinggal bersama.
Melihat beberapa bagian tubuhnya penuh luka, ia serta keluarga lainnya menduga, Suartini menusuk dirinya sendiri dengan pisau yang masih dipegangnya.
Ia mengungkapkan, bibinya tersebut mengalami gangguan jiwa dan sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Kabupaten Bangli.
"Pada tahun 1990 ia memukul suaminya dengan penumbuk padi hingga meninggal. Katanya ia mengira suaminya itu anjing sehingga memukulnya berulangkali saat tidur," ujarnya.
Setelah kasus itu, dan ditemukan gangguan jiwa, janda tiga anak ini dirawat di RSJ Bangli namun tidak bisa sembuh total.
Ia mengatakan, sejak bulan november, gangguan jiwa bibinya tersebut kumat, dan sempat mau bunuh diri dengan menghadang truk di jalan raya, namun bisa diselamatkan warga.
Mengetahui ada warga ditemukan tewas dengan badan penuh luka, Kapolres Jembrana, Ajun Komisaris Besar, Harry Hariyadi bersama anak buahnya langsung datang ke lokasi menyaksikan olah tempat kejadian perkara.
"Kelurga korban menolak dilakukan otopsi terhadap jenazah. Katanya mereka sudah merelakan meninggalnya korban yang mengalami gangguan jiwa ini," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal, Polres Jembrana, Ajun Komisaris, Gusti Made Sudarma Putra.(GBI)
Pewarta: Oleh Gembong IsmadiEditor : Gembong Ismadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.