Denpasar (Antara Bali) - Pemerintah Provinsi Bali menggelar "Podium Masyarakat Bicara" sebagai salah satu sarana mengakomodir aspirasi rakyat untuk menyampaikan keluhan dan gagasan melalui orasi yang menonjolkan kesantunan dan etika.

"Saya ingin masyarakat dengan terbuka menyampaikan (aspirasi) supaya kami tahu dan bisa memahami apa yang ada di hati dan pikiran mereka," kata Gubernur Bali Made Mangku Pastika di Denpasar, Minggu.

Podium Bali Bicara itu digelar di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Renon Denpasar, tepatnya di sebelah barat Monumen Perjuangan Rakyat Bali.

Kesempatan itu merupakan forum ketiga yang diberikan oleh pemerintahan di bawah Pastika dan Sudikerta selain forum "Simakrama" atau pertemuan rutin pemerintah dan masyarakat tiap satu bulan sekali dan dialog interaktif.

"Yang melatarbelakangi adanya podium ini karena saya pikir media yang saya berikan seperti `simakrama` dan dialog interaktif belum cukup (mengakomodir)," ucap mantan Kepala Polda Bai itu.

Dengan fasilitas panggung kecil dan pengeras suara, satu per satu warga menyampaikan aspirasi dan keluhannya terhadap permasalahan yang sedang menghangat di Pulau Dewata termasuk pelayanan publik.

Aspirasi yang disampaikan langsung di hadapan Gubernur Pastika dan Wakil Gubernur I Ketut Sudikerta yang juga didampingi jajaran Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) itu beragam mulai terkait masalah lingkungan, kesehatan, kontroversi reklamasi Teluk Benoa, pelayanan publik seperti transportasi Trans-Sarbagita, masalah HIV/AIDS hingga pernyataan cinta kepada kekasih yang cukup menggelitik masyarakat.

Pastika mengaku bahwa ia akan menindaklanjuti aspirasi yang disampaikan masyarakat seperti permasalah pelayanan transportasi publik Transsarbagita yang kerap terlambat bahkan hingga 40 menit.

"Terlambat lima menit masih bisa toleransi. Tetapi kalau tidak mampu itu, kami setop saja karena itu Pemprov bayar sama pengelola Transsarbagita. Kalau sampai terlambat 40 menit, ganti saja, dan pecat. Kami tidak bayar itu karena itu subsidi," tegasnya.

Pastika mengaku bahwa pihaknya tidak melakukan filter terlebih dahulu atas orasi yang disampaikan masyarakat.

Masyarakat, kata dia, bebas meyampaikan aspirasi asalkan dalam koridor yang santun dan etika.

Salah satu isu yang mengemuka dalam podium itu yakni pro dan kontra reklamasi Teluk Benoa.

"Mari kita duduk bersama. Kalau Teluk Benoa dibuat cantik, berapa banyak bisa menampung tenaga kerja," kata Wayan Ranten, seorang warga Teluk Benoa yang menyatakan orasi dukungannya terhadap reklamasi itu.

Saat seorang warga menyampaikan aspirasinya pada kesempatan pertama dalam podium yang dibuka pada pukul 08.00 WITA, sekelompok orang sempat menyanyikan yel-yel tolak reklamasi.

Dengan mengenakan baju kaos putih dengan tulisan "tolak reklamasi" dan membentangkan spanduk mereka menentang rencana tersebut.

Selama sekitar sepuluh menit, mereka hanya bernyanyi menolak reklamasi namun tidak menggunakan kesempatan podium untuk berorasi dan hanya berlalu usai menyanyikan yel-yel.

Meski demikian, acara podium bicara tersebut tetap berlangsung.

Podium Bali Bicara itu rencananya akan digelar setiap hari Minggu pagi mulai pukul 08.00 WITA di Lapangan Niti Mandala Renon Denpasar.

Pengamat Politik Rai Misno menyatakan bahwa pihaknya mengapresiasi adanya podium itu.

Ia mengharapkan setiap aspirasi, keluhan dan gagasan dari masyarakat agar ditindaklanjuti pemerintah.

"Saya nilai ini forum yang bagus sebagai sarana lain untuk mengakomorir aspirasi masyarakat," ucapnya. (WDY)

Pewarta: Oleh Dewa Wiguna
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026