Singaraja (Antara Bali) - Keributan yang terjadi antara warga Desa Bondalem dengan warga Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali, berdampak melumpuhkan jalur utama lintas provinsi di daerah setempat lebih dari 12 jam.

Keributan yang terjadi sejak sekitar pukul 01.00 Wita atau SAAT memasuki Minggu (15/8) dini hari itu, berbuntut penutupan jalan utama tersebut oleh warga dari kedua desa yang berlangsung hinggga pagi.

Penutupan jalan dilakukan kedua belah pihak dengan menebang pohon asem di pinggir jalan dan batangnya dirobohkan melintang hingga menutup ruas jalan.

Selain itu, warga dari kedua desa juga menghentikan setiap kendaraan yang berusaha melintas dari arah timur maupun yang dari barat.

Menurut Kapolres Buleleng AKBP M Yudi Hartanto, keributan warga antardua desa tersebut juga mengakibatkan beberapa orang mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.

Sebuah truk Isuzu Elf DK-9358-JU milik Jro Astawa dan Toyota Inova milik Made Sudarma, kedunya warga desa Kubutambahan, mengalami kerusakan akibat dibakar dan dilempari dengan batu oleh sekelompok orang yang belum diketahui identitasnya.

Dari keterangan sejumlah saksi yang dihimpun ANTARA, kejadian tersebut berawal dari senggolan yang terjadi antara seorang pengendara sepeda motor dengan salah satu peserta dalam barisan kelompok gerak jalan Desa Kubutambahan.

"Sebelum menyenggol peserta, pemilik sepeda motor yang terindikasi dalam kondisi mabuk, menyenggol bagian belakang truk bermuatan pasir," ujar Kapolres Yudi.

Peserta yang terkena senggolan, lanjut Yudi, secara spontan akhirnya mengeluarkan kata-kata makian kepada pengemudi sepeda motor yang telah menyenggolnya tersebut.

Kemarahan kedua belah pihak akhirnya berlangsung ketika pengemudi sepeda motor yang sempat lari, kemudian datang dengan membawa sejumlah rekannya yang masing-masing membawa batu untuk melempari barisan peserta gerak jalan dari desa Kubutambahan.

Aksi pelemparan yang beberapa dari pelakunya dikenal sebagai warga desa Bondalem, juga mengakibatkan Kepala Seksi Trantib dari Satuan Pamong Praja Pemkab Buleleng mengalami luka di bagian pelipis mata sebelah kiri.

Sejumlah penumpang angkutan umum antarprovinsi akhirnya harus berjalan kaki lebih dari 10 kilometer karena tak satu pun mobil bisa melintas di jalur tersebut.

Akibat kejadian tersebut, lomba gerak jalan yang menjadi agenda tahunan jelang perayaan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus, tidak bisa dilangsungkan hingga tuntas.

"Hanya dua regu yang berhasil melintasi kawasan desa yang sedang mengalami konflik sementara, sisanya harus dievakuasi dengan menggunakan truk Dalmas Polres Buleleng dan bantuan dari Kompi Bantuan Air Sanih," ujar Kabag Humas Pemkab Buleleng saat dikonfirmasi usai kejadian berlangsung.(*)




: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026