"Pameran ini sebenarnya tidaklah mengutik-utik mengenai baru-tidaknya estetika dan wacana yang saya angkat melalui catatan visual, namun bagaimana memori pribadi, pengalaman, dan pergaulan sosial bisa menjadi inspirasi," kata Rahmat Muchtar dalam siaran persnya yang diterima ANTARA di Denpasar, Sabtu.
Ia mengemukakan bahwa pengalaman dengan manusia maupun alam itu menjadi bagian dari spiritual pribadi dan bisa juga inspirasi bagi khalayak tentang apa arti dan makna keberadaan kita diantara seluruh siklus kehidupan di alam jagat.
"Misalnya tentang apa makna tanah bagi akar pohon atau arti pohon dan tetumbuhan bagi peradaban hidup manusia. Apa arti sinar matahari bagi pohon, manusia dan binatang. Atau juga tentang makna air hujan yang turun ke bumi yang oleh akar pepohonan dan segala macam binatang tanah menyerapnya untuk tumbuh dan hidup," katanya.
Dari mata rantai seperti itu, katanya, ia merasa betul-betul sadar bahwa manusia tidak hidup sendiri sebagai manusia. Manusia hidup bersama rerimbun belukar dan miliaran pohon di muka bumi. Manusia membutuhkan pohon untuk mengirup oksigen.
Namun, katanya, manusia justru merusaka keberadaan hutan itu padahal sebetulnya sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup di masa-masa mendatang.
"Masalah-masalah seperti ini yang saya angkat dalam bentuk coretan di kanvas. Bagaimana manusia dengan serakah telah mengeksploitasi hutan yang hijau kemudian bekasnya menjadi kering dan gersang," katanya.
Ia memberi judul pameran dengfan "Alam Merah Putih", karena yang menjadi perhatian dalam objek lukisannya memang kerusakan hutan di Indonesia yang pada pada 17 Agustus nanti akan merayakan Hari Kemerdekaan.
"Negara kita dikenal dengan kekayaan hutannya sehingga menjadi paru-paru dunia, namun sekaligus juga dikenal debagai negara yang hutannya sudah banyak yang gundul," katanya. ***4***
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.