"Harga cabai masih tinggi, meskipun demikian, semuanya tergantung keadaan cabainya," kata Ito (40), salah seorang pedagang bumbu di pasar Poh Gading, Denpasar Utara, Rabu.
Ia menjelaskan, tingginya garga cabai itu dirasakannya sejak satu bulan terakhir ini. Padahal harga sebelumnya sekitar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram.
Pedagang yang mengaku telah berjualan sejak 10 tahun itu mengatakan, selain cabai, beberapa bumbu dapur lainnya seperti bawang merah, putih dan yang lainnya juga masih mengalami kenaikan, namun tidak terlalu tinggi.
Senada dengan Ito, beberapa pedagang lainnya yang ditemui di Pasar Sempidi, Badung juga mengemukakan masih tingginya harga komoditi jenis cabai tersebut.
"Kalau harga naik, penghasilan saya juga turun. Kalau sebelumnya mampu menjual 10 kg hingga 20 kg per harinya, sekarang paling cuma 5 kg saja sudah banyak," kata Sriani (48) yang diiyakan beberapa pedagang lainnya.
Ia menyebutkan, kalau sebelum terjadinya kenaikan harga dirinya mampu memperoleh omzet penjualan hingga Rp2 juta per hari, maka semenjak harga cabai merangkak naik penghasilannya turun hingga 50 persen.
Di samping keberadaan cabai yang langka, penurunnan omzet, katanya, lebih disebabkan karena para konsumen yang umumnya ibu-ibu rumah tangga membatasi jatah belanjanya.
"Pembeli umumnya saat ini membatasi jatah belanjanya. Kalau semula satu orang membeli satu kilogram, sekarang paling hanya seperempat kilogram," kata wanita dengan dua cucu itu.
Pery (34), salah seorang pembeli di Pasar Poh Gading Denpasar mengatakan bahwa dirinya terpaksa membatasai jatah belanjanya sehubungan beberapa kebutuhan pokok lainnya juga mengalami kenaikan.
"Mau gimana lagi, nanti juga habis uang belanjanya banyak. Soalnya beberapa kebutuhan pokok lainnya juga naik. Saya khawatir harga-harga barang terus akan merangkak naik, terlebih menjelang lebaran nanti," ujar ibu yang mengaku mempunyai tiga orang anak itu.(*)
Editor : Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.