Semarapura (Antara Bali) - Bekas galian C di kawasan Desa Gunaksa dan Tangkas, Kabupaten Klungkung, Bali akan dimanfaatkan untuk kolam pengembangan budidaya lele serta ikan patin.
"Sesuai rencana, pusat akan membantu sejumlah dana untuk pengembangan budidaya lele dan ikan patin di kawasan bekas galian C atau lokasi penambangan pasir tersebut," kata Plt Kadis Peternakan Perikanan dan Kelautan (PPK) Klungkung Drh I Gusti Ngurah Badiwangsa Temaja, di Semarapura, Senin.
Ia menyebutkan, untuk pengelolaan nantinya akan diserahkan kepada kelompok-kelompok masyarakat (pokmas) dan para pemilik lahan di kawasan itu.
Dikatakan, rencana pengembangan atau budidaya lele dan ikan patin itu merupakan salah satu upaya untuk memanfaatkan potensi bekas galian C di Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, dan di Desa Tangkas, Kecamatan Klungkung dan sekitarnya.
"Untuk pengembangan itu, kami masih menunggu dana bantuan dari pusat sebesar Rp900 juta," ujarnya menjelaskan.
I Ketut Sugiana, salah seorang warga setempat mengatakan, bekas galian C di dua desa tersebut, secara kasat mata merupakan kawasan potensial untuk pengembangan perikanan serta olahraga air dan rekreasi.
"Potensi yang dimiliki sangat tinggi, sehingga cocok untuk dikembangkan menjadi areal perikanan sekaligus olahraga aiar dan rekresi," katanya menjelaskan.
Sugiana menyebutkan, lokasi bekas galian C itu merupakan daerah aliran Sungai Unda, sehingga sangat dimungkinkan untuk dilakukannya beberapa jenis kegiatan tersebut.
Di kawasan itu ada puluhan bekas lokasi galian yang kini menjadi laguna-laguna kecil. "Laguna-laguna inilah yang pada hari libur dimanfaatkan oleh warga untuk rekreasi memancing," ucapnya.
Lantaran tak tergarap secara maksimal, kata Sugiana, laguna di kawasan bekas galian C tak banyak dilirik wisatawan yang banyak datang ke Bali.
Ia menjelaskan, pasir yang selama ini digali dari dua desa itu, adalah lahar dingin bekas muntahan Gunung Agung yang meletus dahsyat 1963.
Kemudian sejak tahun 1970, material pasir dan batu yang menggunung di kawasan itu dikeruk untuk kebutuhan anekan pembangunan.
"Kawasan yang luasnya mencapai tidak kurang dari 290 hektare itu sempat menjadi tempat penghidupan bagi ribuan warga, baik sebagai tukang gali pasir dan batu, buruh angkut dan sopir truk, serta tentu saja 'juragan-juragan' pasir itu," katanya.
Ia menambahkan, kini pasir dan batu yang berada di kawasan galian C itu telah habis. Tak ada lagi pencari pasir yang dapat mengeruk keuntungan di kawasan itu.
"Sekarang sudah tinggal kenangan, bahkan kawasan itu terlihat terbengkelai," ucapnya menjelaskan. (*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.