Denpasar (Antara Bali) - Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta mengingatkan para pemangku kepentingan terkait untuk bersinergi dan mengintegrasikan pembangunan sektor pertanian di Pulau Dewata agar dapat memberikan manfaat bagi para petani.

"Kelemahan kita selama ini membangun sektor pertanian pada tataran implementasi sehingga lewat seminar ini kami harapkan dapat diberikan saran-saran untuk memajukan pertanian kita," kata Sudikerta di sela-sela membuka Seminar Pembangunan Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali di Denpasar, Rabu.

Menurut dia, ada beberapa persoalan yang masih dihadapi sektor pertanian di Bali seperti masih rendahnya pendapatan petani, tingginya alih fungsi lahan pertanian, belum sinerginya antara sektor pertanian dan pariwisata serta kualitas hasil pertanian yang masih kalah dengan produk impor.

Terkait dengan alih fungsi lahan pertanian, bagi Sudikerta, untuk mengatasinya juga dihadapkan pada sejumlah persoalan pelik. Penetapan kawasan menjadi jalur hijau dan lahan sawah sejauh ini belum menjadi solusi yang ampuh.

"Ketika pemerintah bersikukuh menegakkan aturan jalur hijau, masyarakat yang memiliki lahan juga menuntut penggantian yang sepadan, terutama bagi mereka yang hanya memiliki lahan itu saja. Jika tidak dipenuhi, mau tidak mau tetap saja terjadi alih fungsi lahan pertanian," ujarnya.

Oleh karena itu, untuk menghindari alih fungsi lahan pertanian, kata dia, sangat dibutuhkan subsidi dari pemerintah baik berupa subsidi pupuk, benih, hingga subsidi pembayaran pajak.

"Di samping itu, perlu duduk bersama antara pemerintah, pemangku kepentingan, dan masyarakat sehingga ada pemahaman yang sama betapa pentingnya kawasan jalur hijau dan lahan pertanian tetap dijaga," ucapnya.

Sudikerta menambahkan, menyangkut pendapatan petani yang masih rendah sebenarnya Pemprov Bali sudah mengambil terobosan lewat program Sistem Pertanian Terintegrasi (Simantri) yang dilaksanakan sejak 2009 hingga sekarang. Demikian juga dengan sinergi sektor pariwisata dan pertanian, salah satu solusinya dengan penerapan Perda Perlindungan Buah Lokal secara konsisten.

"Yang tidak kalah penting adalah membangun ketertarikan generasi muda untuk mencintai pertanian. Caranya lewat mengembangkan sektor pertanian dengan adopsi teknologi modern dan berbasis ekonomi kreatif, serta kemudahan dalam akses pemasaran," ujarnya.

Mantan Wakil Bupati Badung itupun berharap dana-dana untuk pembangunan sektor pertanian dari pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota dapat saling melengkapi dan terintegrasi sehingga akhirnya memberikan asas manfaat bagi masyarakat.

"Pertanian di Bali harus tetap lestari karena rohnya budaya kita terletak di sektor pertanian," kata Sudikerta. (WRA) 

Pewarta: Oleh Ni Luh Rhismawati
: I Gede Wira Suryantala

COPYRIGHT © ANTARA 2026