"Nilai impor itu dibanding dengan bulan Maret 2014 juga berkurang 57,86 persen yang bulan sebelumnya itu mencapai 38,17 juta dolar AS," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Panusunan Siregar di Denpasar, Minggu.
Ia menyebutkan impor tersebut berupa mesin-mesin dan aneka jenis barang produksi untuk diolah lebih lanjut menjadi barang dan aneka jenis cendera mata lainnya untuk diekspor lagi.
Impor alat produksi itu dinilai jauh lebih baik dibandingkan mendatangkan bahan makanan atau minuman untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
Panusunan Siregar menjelaskan bahwa impor yang dilakukan Bali berupa alat produksi akan memberikan dampak positif dalam memacu perolehan devisa pada di masa mendatang.
Komponen impor itu antara lain mesin-mesin (mekanik) untuk proses produksi sebesar 66,75 persen. Disusul produk mesin (perlatan listrik) 9,21 persen, produk garam, belerang dan kapur 2,40 persen, produk perhiasan (lonceng dan arloji) 2,39 persen, dan produk kendaraan dan bagian-bagiannya 1,98 persen.
Panusunan Siregar menambahkan aneka jenis alat produksi itu didatangkan dari Tiongkok 61,07 persen, Amerika Serikat 7,82 persen, Hong Kong 6,45 persen, Australia 5,63 persen, dan Singapura 4,15 persen.
Nilai impor tersebut masih jauh di bawah perolehan ekspor Bali pada bulan yang sama mencapai 44,62 juta dolar AS.
Dengan demikian nilai total impor Bali selama empat bulan pertama 2014 tercatat 140,9 juta dolar AS, meningkat 109,32 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 67,31 juta dolar AS. (WDY)
Pewarta: Oleh I Ketut Sutika: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.