Denpasar (Antara Bali) - Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam kearifan lokal masyarakat Bali, Tri Hita Karana (THK), diharapkan menjadi solusi di tengah maraknya kampanye hitam menjelang Pemilu Presiden 2014 yang dikhawatirkan memecah persatuan bangsa.

"Kearifan lokal Tri Hita Karana itu mempersatukan pemikiran masyarakat dari berbagai lata belakang yang bebeda-beda," kata Rektor Universitas Udayana, Prof. Dr. Ketut Suastika, yang menjadi pembicara dalam Konferensi Guru Besar Indonesia di Sanur, Denpasar, Sabtu.

Tri Hita Karana merupakan tiga landasan filosofis yang memiliki makna tiga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam dan manusia dengan manusia.

Meskipun kampanye hitam yang marak beredar di media sosial, kata dia, sulit dicegah, namun dengan mengilhami nilai luhur itu maka diharapkan mmepersatukan bangsa dan negara meskipun pilihan dalam Pilpres 2014 bebeda.

Dia mengharapkan masyarakat tidak cepat terhasut dengan informasi yang terdapat dalam kampanye negatif yang dilontarkan oleh oknum-oknum tak tertanggung jawab yang menyerang salah satu kandidat tertentu.

"Walaupun kedua kandidat itu berbeda visi dan misi namun saya harapkan visi dan misi serta karakter mereka bisa saling mengisi bukan malah diperbebatkan, saling bertengkar," ucapnya.

Dengan adanya kampanye hitam itu, dikhawatirkan membuat suasana perpolitikan Tanah Air semakin memanas yang pada akhirnya membuat pengkotakan di antara masyarakat.

Untuk itu, pihaknya mengajak masyarakat untuk kembali memahami ilai yang terkandung di dalam THK itu yang juga sejalan dengan nilai luhur Pancasila sebagai dasar negara.

"Makanya prinsip kebangsaan dan Pancasila itu perlu ditekankan kembali agar tidak terjadi perpecahan," imbuhnya.

Sementara itu Guru Besar yang juga mantan Rektor Universitas Airlangga, Prof Dr Puruhito menyatakan bahwa adanya kampanye hitam merupakan tanda iklim politik yang tak sehat dan belum dewasa sepenuhnya.

Dia mengharapkan masyarakat yang menerima kampanye hitam yang tersebar baik di jejaring media sosial maupun melalui spanduk dan majalah tidak merespon hal tersebut agar tidak semakin memperburuk keadaan.

"Sebaiknya masyarakat diam saja, tidak perlu direspon. Kalau ditanggapi maka itu akan tambah menyala (memanas)," ucapnya. (WDY)

Pewarta: Oleh Dewa Wiguna
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026