Selain dari NTB, Bali juga menerima kiriman sebanyak 6.500 ton beras hasil produksi petani Sulawesi Selatan (Sulsel) awal Juli 2010, kata Ketua Satuan tugas Kerja Raskin Bulog Devisi Bali, Drs Wayan Suyasa di Denpasar Selasa.
Bulog Bali menghentikan sementara pembelian beras dari mitra bisnisnya dari pedagang di NTB akibat harga salah satu bahan pokok masyarakat di pasaran harganya jauh lebih tinggi dari pembelian yang ditetapkan oleh pemerintah.
Ia mengatakan, pihaknya mendatangkan beras sebanyak itu selama 2010, dari luar daerah bukan berarti petani di daerah ini tidak berproduksi, hasil panenan petani setempat lebih banyak dijual ke pasaran bebas dengan harga yang lebih baik.
Produksi petani Bali bisa melebihi kebutuhan masyarakat setempat, namun hampir seluruhnya diperdagangkan ke pasaran bebas karena harganya jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan harga patokan pemerintah.
Ia menjelaskan, dengan dibelinya beras dari daerah Sulsel dan NTB `tersebut, Bali kini memiliki sekitar 12.500 ton persediaan nasional yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar lima bulan ke depan.
Sebab Bali merealisasikan beras untuk masyarakat miskin yang tersebar di seluruh daerah pariwisata sekitar 2.000 ton per bulan, memenuhi permintaan dari anggota ABRI, Departemen sosial serta persediaan untuk menjaga kemungkinan terjadinya bencana alam.
Dalam menghadapi hari-hari besar keagamaan dan Nasional seperti Lebaran maupun Natal dan pergantian tahun baru 2010, tidak perlu khawatir karena persediaan beras yang ada tersimpan di gudang Bulog cukup memadai, kata Suyasa.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.