Kawasan Sanur memiliki perjalanan pariwisata jauh sebelum kawasan Kuta dan Nusa Dua dikenal.
Sejak zaman penjajahan, desa yang terletak sekitar lima kilometer arah timur jantung Kota Denpasar itu sudah terkenal.
Pada zaman penjajahan, pantai Sanur adalah tempat berlabuhnya para tentara Belanda yang akan menduduki wilayah Bali, khususnya Denpasar.
Dari segi geografis, desa wisata tersebut adalah sebuah desa yang berada di tepi pantai berpasir putih, tempat bertemunya air tawar dengan air laut.
Kini, kawasan desa itu memberikan banyak petualangan pariwisata, mulai wisata bonsai, bawah laut, jukung, olah raga air seperti surfing, kite surfing, parasailing, situs-situs sejarah peradaban Bali, golf, galeri seni serta warung, cafe dan restoran yang akan memanjakan lidah pengunjung.
Menghabiskan waktu pagi sampai malam tidak akan cukup untuk menikmati semua sajian kuliner yang ada di sana. Ratusan jenis kudapan dari kelas warung sampai restoran mudah didapatkan di Sanur.
"Silakan pilih menu makanan menurut selera anda, mulai dari makanan tradisional sampai Eropa. Jika mengawali pagi hari setelah matahari terbit, maka sangat cocok untuk mengunjungi Warung Men Weti di Jalan Pantai Segara Sanur," kata Ketua Panitia "Sanur Village Festival" 2010, Ida Bagus Sidharta Putra.
Warung Men Weti menyediakan sarapan sampai makan siang dengan sajian utama aneka jenis olahan, daging ayam dengan beragam bumbu Bali serta ikan laut terutama cumi-cumi yang sangat menggoda.
Selanjutnya warung di Sanur yang satu ini sangat legendaris, yaitu Warung Makbeng.
Makbeng sejatinya adalah pemilik warung yang membuka warung pada tahun 1941 dengan menu khas ikan laut goreng, sup kepala ikan dan sambal terasi yang sangat enak bila dipadukan dengan ikan goreng.
Sup kepala ikan dengan rasa khas itu merupakan andalan Warung Makbeng, yang sangat jelas rasa kuahnya yang berasal dari rempah-rempah Bali.
Berada di ujung jalan Hang Tuah arah Inna Grand Bali Beach seolah menandai wilayah kulinari ikan laut. Pengunjung yang pergi ke Sanur dapat menikmati sarapan sampai makan siang.
Persis di depan Mak Beng, dengan menu yang sama yaitu identitas ikan laut adalah warung Bu Nur, warung ini menyediakan sarapan.
Melanjutkan ke arah barat, yaitu di daerah Batur Sari, pengunjung akan menemukan warung yang menyajikan menu khusus daging ayam, bubur, tipat serta nasi yang dilengkapi dengan ayam kuah kaya rasa rempah-rempah bumbu Bali, sayur dan sambal mentah pedas nan nikmat melengkapi sajian santap sarapan maupun siang. Warung tersebut adalah warung Krisna.
Sedangkan untuk santap malam, pengunjung juga tidak boleh melewatkan daerah sepanjang bypass Ngurah Rai maupun Jalan Danau Tamblingan.
Pasar Sindhu Sanur yang terkenal dengan pasar senggolnya menyediakan beragam makanan tradisonal baik masakan Bali, Jawa, Madura, Sumatera serta China. Semua dapat diperoleh dengan harga yang sangat terjangkau.
Di sebelah Pasar Sindhu itu, tepatnya di Jalan Tandakan, pengunjung juga dapat menikmati makan malam bersama wisatawan asing yang mencoba selera warung dengan konsep kesehajaan antara sesama pengunjung, yaitu di warung KKN.
Warung itu menyediakan aneka makanan laut bakar dan variasi masakan daging ayam dan beragam aneka sayur.
Masih di Jalan Tamblingan, pengunjung bisa bersantap siang atau malam di restoran-restoran yang memiliki reputasi internasional dalam memberikan ragam rasa bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Sebut saja The Village, Massimo, dan La Barca yang menyediakan menu masakan Italia, Cafe Batu Jimbar yang menyediakan menu Indonesia dan barat, Ryoshi untuk masakan Jepang.
Sedangkan di daerah selatan, yaitu Jalan Cemara, ada sederetan restoran yang wajib dikunjungi; Mago, Double Duch, Cat and Fidle serta Mezzanine.
Untuk santai sambil menikmati musik dan acara olah raga, wisatawandapat mengunjungi bar, restoran dan cafe di antaranya Arena Sport Cafe di Jalan bypass Ngurah Rai, Lazer di jalan Danau Tamblingan dan Stadium di Jalan Cemara Sanur.
Untuk tantangan penikmat kopi, pengunjung wisata Sanur dapat menikmati aneka jenis kopi, mulai dari kopi bali, ragam rasa kopi italia, serta kopi luwak yang memiliki rasa sangat kuat dan lezat.
Di tempat inilah penikmat kopi akan dimanjakan sekalian dengan santap makan siang maupun malam. Namanya Kopi Bali House.
Jazz Bar and Grill yang aktif mendatangkan ajang musik dari penyanyi dan musisi nasional maupun internasional juga akan menjadi pelengkap menikmati malam di Sanur.
Belum cukup. Pengunjung bisa juga mendapatkan makanan dari restoran yang dimiliki masing-masing hotel yang ada di Sanur.
Bila senja sudah tiba, aroma ikan bakar yang asapnya seolah menuntun mencari tempat restoran maupun warung itu ada, maka pengunjung dapat meluangkan jalan-jalan untuk menyusuri sepanjang pantai Segara Sanur.
Kemilau air laut yang diterpa temaran sinar rembulan dan lampu-lampu restoran akan membuat suasana romantis pilihan makan malam.
Nah, jika pengjung ingin menikmati semua suasana seperti itu dalam satu tempat, semua itu dapat ditemukan hanya di Festival Pedesaan Sanur (SVF) yang akan digelar pada 4 hingga 8 Agustus.
SVF akan menghadirkan seluruh warung hingg restoran yang ada di Sanur.
Pohon Intaran
Panitia SVF ke-5 pada kegiatan itu akan memperkenalkan sesuatu yang unik dan menarik bagi warga masyarakat dan wisatawan, yaitu pohon intaran (Azadirachta indica).
"Kami akan memperkenalkan sebuah pohon yang akan menjadi ikon bagi Sanur. Pohon tersebut adalah pohon intaran. Pohon ini tumbuh banyak di wilayah Sanur dan hampir semua bagiannya bermanfaat bagi manusia," kata Ida Bagus Sidharta Putra, yang akrab dipanggil Gusde, panitia SVF.
Ia mengatakan, nilai historis pohon intaran akan diangkat dan dikombinasikan dengan sejarah Sanur, yang sampai saat ini diabadikan menjadi nama kawasan desa wisata itu.
"Ini menjadi bukti kedekatan pohon intaran dengan Sanur. Program lingkungan 'go green' yang sempat diusung SVF tahun lalu sangat erat kaitannya dengan program penanaman pohon intaran," kata pemilik Hotel Santrian.
Ia mengemukakan bahwa SVF tahun ini mengangkat tema "Saha Nuhur" atau tempat suci terbitnya matahari untuk meminta berkah.
Menurut dia, eksistensi seni dan budaya di Sanur terjaga sejak kehadiran orang-orang suci atau pemuka agama hingga saat ini.
"Tema 'Saha Nuhur' yang memiliki makna bahwa Sanur adalah tempat suci terbitnya matahari untuk meminta berkah. Tema ini sengaja diangkat untuk mengingatkan kehadiran Sanur bagi Bali," katanya.
Dia mengatakan, Sanur sebagai tujuan pariwisata mampu mempertahankan budayanya di tengah serangan budaya luar. Kehadiran pendeta-pendeta di Sanur membawa tatanan baru bagi kehidupan di wilayah itu.
"Golongan pendeta ini menjadi panutan yang begitu kental untuk mengawal budaya tradisional hingga kini," ucap pria yang juga praktisi pariwisata Bali itu.
"Sebelumnya SVF sempat kami gelar di Pantai Mertasari. Namun sekarang kembali akan digelar di sepanjang pantai Inna Grand Bali Beach dan Jalan Segara," kata Gusde.(I Komang Suparta) (*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.