Denpasar (Antara Bali) - Gubernur Bali I Made Mangku Pastika meragukan data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait data jumlah kepala keluarga miskin di Pulau Dewata sebanyak 130 ribu KK.

"Saya akan segera membentuk tim independen untuk menyurvei KK miskin di Bali," kata Mangku Pastika di Denpasar, Senin.

Dikatakan, tahun 2008 jumlah KK miskin di Bali diperkirakan 130.000 KK. Pada awal masa jabatannya menargetkan pengurangan KK miskin per tahun sebanyak 10.000 KK. Artinya tahun 2010 ada pengurangan KK miskin sebanyak 20.000 KK.

"Jika dilihat dari program ini seharusnya KK miskin di Bali pada 2010 sebanyak 110.000 KK. Data KK yang dikeluarkan BPS jumlah masih tetap sebanyak 130.000 KK," katanya.

Padahal dengan sejumlah program "Bali Mandara" (Bali yang maju, aman dan sejahtera), Mangku Pastika menilai banyak kemajuan yang telah dicapai.

Gubernur menyatakan, pendataan data KK miskin harusnya dilakukan secara langsung, bukan hanya berdasarkan parameter dan sampel.

"Banyak masyarakat kita yang 'memondok' atau tinggal di rumah kubuk. Kalau pondok yang kondisinya jelek, tapi mereka kan punya rumah lain bahkan punya sapi sampai tujuh ekor. Mengapa dikatakan," kata dia.

Terkait pertumbuhan ekonomi Bali yang lebih rendah dari nasional, Mangku Pastika menyatakan tidak mau ambil pusing.

Ia kembali meragukan parameter menilaian pertumbuhan ekonomi.

"Saya sudah tanyakan data kepada BPS. Kami akan buat sendiri survei ekonomi," katanya.

Asumsi pertumbuhan ekonomi saat ini hanya didasarkan pada beberapa parameter, seperti investasi dan ekspor.

"Banyak ekspor Bali dikirim melalui Jakarta dan Surabaya. Banyak juga eksportir dari Bali tidak menggunakan 'letter of credit' (LC) sehingga tidak bisa tercatat nilai transaksinya," kata Mangku Pastika.(*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026