"Secara perlahan rupiah bergerak menguat, tampaknya eforia politik di dalam negeri yang diperkirakan lancar menjadi sentimen positif di pasar uang dalam negeri," kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta, Senin.
Di sisi lain, lanjut dia, Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) di level 7,5 persen dinilai bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat lebih dipacu, terutama dari sisi penyaluran kredit yang sebelumnya sempat terjadi perlambatan pertumbuhan.
Meski demikian, lanjut dia, pasar valuta asing di negara berkembang, termasuk Indonesia tetap diliputi kekhawatiran dari eksternal terutama menjelang penyelenggaraan referendum di Krimea.
"Dengan meningkatnya kembali kecemasan tersebut pelaku pasar uang bisa memilih untuk switching ke aset-aset valas lainnya yang dinilai save heaven, di antaranya dolar AS dan yen," katanya.
Terkait dengan sentimen politik di dalam negeri, Pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara, Rully Nova memperkirakan bahwa hanya bersifat jangka pendek.
"Diperkirakan hanya sampai pemilu selesai dilaksanakan, setelah itu pasar akan kembali mencermati fundamental ekonomi dan faktor lainnya," katanya.(WDY)
Pewarta: Pewarta: Zubi Mahrofi: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.