"Tanah saya sudah menjadi laut akibat tergerus abrasai," kata Krisnadana, salah seorang warga asal Tegal Besar, Selasa.
Ia mengungkapkan bahwa lahannya kini semuanya sudah menjadi laut lepas. Bahkan sebelumnya, lahan miliknya ada sampai sekitar enam km di laut lepas. Namun semuanya itu kini sudah menjadi lautan.
Bahkan Krisnadana menyebutkan bukan hanya lahan miliknya saja yang terkikis abrasi, namun seluruh warga Tegal Besar yang memiliki lahan di pantai.
"Seingat saya, dulu sewaktu kecil saya jalan sekitar 15 menit ke pantai dan sekarang semuanya jadi laut," terangnya.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat Tegal Besar termasuk dirinya hanya bisa menonton ombak pantai dan tanahnya tidak bisa kembali lagi seperti sedia kala.
Di sebelah lahan miliknya yang tersisa, terdapat pula Villa berusaha agar bangunannya tidak terkikis ombak dengan menggunakan batu bronjong. Namun usahanya sia-sia, mengingat kekuatan ombak menghanyutkan seluruh batu bronjong tersebut.
"Sejumlah warga ada yang sudah memasang batu bronjong atau melakukan penyenderan, namun usaha mereka sia-sia, tetap saja tergerus ombak," jelas Krisnadana.
Atas kondisi tersebut, Krisnadana berharap Pemkab Klungkung atau Pemerintah Provinsi Bali maupun pemerintah pusat bisa mengambil langkah-langkah yang tepat agar bisa mengurangi terjadinya abrasi.
"Harapan masyarakat, ada perhatian dari pemerintah dengan adanya semacam pemasangan tanggul atau pengamanan pantai," pinta Krisnadana.
Jika tidak ada upaya pengamanan pantai dikhawatirkan seluruh vila yang ada di Pantai Tegal Besar akan terkikis habis dan ikut menjadi pantai seperti tanah miliknya. (*/DWA)
: Dewa Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.