"Pementasan oleh tim senderatari Pemprov Bali garapan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ini disuguhkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dijadwalkan membuka aktivitas seni tahunan di Pulau Dewata ini," kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Dr Ida Bagus Sedhawa, SE, MSi di Denpasar, Selasa.
Ia mengatakan bahwa pementasan oleh ratusan seniman yang terdiri atas mahasiswa dan dosen lembaga pendidikan tinggi seni itu diawali dengan penampilan tari Puspa Wresti sebagai tari penyambutan.
Tari pembukaan tersebut dibawakan oleh puluhan siswa-siswi Sekolah Luar Biasa (SLB) Jimbaran, Kabupaten Badung yang berkolaborasi dengan mahasiswa ISI Denpasar.
Ida Bagus Sedhawa menjelaskan, ratusan dosen dan mahasiswa ISI Denpasar telah mempersiapkan garapan seni yang bermutu, dengan harapan penampilannya mampu memukau.
Pementasan pada hari pertama PKB berlangsung di panggung terbuka Ardha Candra yang berkapasitas 8.000 penonton.
Selain Kepala Negara dan Ibu Negara, acara itu juga dihadiri sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, para bupati se Bali, masyarakat Bali serta duta seni utusan dari 12 daerah di Indonesia yang ikut serta dalam memeriahkan PKB.
Senderatari mengangkat cerita tentang tugas berat menjadi duta, tanpa didukung oleh kesiapan mental dan keteguhan iman bisa berakhir dengan kegagalan.
Ketika mendapat perintah dari Sri Rama untuk menghadapi Prabu Dasamuka, guna menegaskan sikapnya terhadap Dewi Sinta, Anggada dengan penuh semangat menyatakan kesiapannya, lalu mohon diri untuk pergi ke Alengka.
Mengetahui kedatangan putra Subali itu, Rahwana dengan cerdiknya menghasut Anggada, dengan mengaku bahwa dirinya sejak lama ingin melakukan pembalasan terhadap kemarahan Subali yang dibunuh oleh Rama.
Semua itu disampaikan sambil menyuguhkan jamuan makan serta minuman keras kepada Anggada. Dalam keadaan setengah mabuk, Anggada dengan mudah termakan oleh hasutan Rahwana. Anggada yang telah lupa diri tiba-tiba bangkit dan meninggalkan Alengka sambil menantang Sri Rama.
Hal itu segera diketahui oleh Hanoman, bahwa semuanya itu berkat hasutan Rahwana. Setelah sadar, Anggada berlutut di hadapan Sri Rama sembari meminta maaf dan menyampaikan rasa penyesalannya terhadap kealpaan dirinya.
Cerita tersebut dikemas dalam bentuk tabuh, diiringi gerak tari yang melibatkan ratusan seniman akademik berdurasi selama satu jam.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.