"Kami sudah melakukan penjajakan awal dengan Bali Tourism Development Corporation (BTDC) dan telah mengkomunikasikan rencana tersebut kepada pemerintah daerah," kata Gede Suardana Putra, mantan Kepala Desa Bulian di Denpasar, Kamis.
Ia menjelaskan bahwa desa yang berada di Kecamatan Kubutambahan itu merupakan desa tua yang banyak menyimpan peninggalan Sejarah Kebudayaan Hindu. Pada zaman raja-raja Bali kuno berupa puluhan pura sakral, prasasti, benda arkeolog, goa tempat persembunyian, sumber mata air, tatanan peradaban yang unik baik dari segi "keprajuruan"(Lembaga Tradisional) dan ritual spesifik.
Latar belakang Desa Bulian diangkat sebagai wisata budaya dan spiritual dibuktikan dengan adanya referensi buku tentang Raja Bali yang ke-19 ("Ida Bhatara Ratu Hyang") dan tentang Pura "Yeh Lesung" atau "Candi Manik", dan "Awig-Awig" (aturan adat) bulian 1320 caka 1398 masehi.
Gede Suardana menambahkan bahwa banyak referensi buku seperti prasasti Bulian A dan B berwujud "Tambra Prasasti" (Lempengan tembaga berisi tatanan Aturan yang harus dipatuhi oleh masyarakat "pangempon").
"Prasasti tersebut tidak boleh sembarangan dipindahkan oleh siapapun karena sudah berisi "Laknad Jagat Upadrawa" (Dampak seribu kali hukum yang berat untuk bumi)," katannya.
Menurut dia, Desa Bulian memiliki kaitan dengan "Pasek Badak" yang bersinggasana di Desa Mengwi, Kabupaten Badung. Desa Bulian merupakan salah satu desa kuno yang ada di daerah Bali utara dan memiliki tatanan masyarakat yang unik, berbeda dengan desa-desa Bali Majapahit.
Keunikan Desa ini dapat disimak dari tatanan masyarakat Bulian sebagaimana temuat dalam "awig-awig" Desa (aturan adat) bulian 1320 caka 1398 masehi yang diatur tentang keberadaan "Krama Desa Ngarep, Petegakan Desa, dan Bancakan Palemahan Desa".
Gede Suardana menambahkan, keunikan lainnya juga nampak dari struktur Pura "Kahyangan" Desa, relief dan peninggalan-peninggalan yang terdapat dalam pura tersebut.
Ia mengatakan, dalam Lontar "Kusuma Dewa" terdapat peninggalan sejarah seperti "Tingkahing Pungkah Parahyangan" tentang tatanan pembangunan Pura penyembahan kepada "Ida Bhatara Ratu Ayu Mas Krebsari" yang dimanisfestasikan berupa "Pelinggih Meru Tumpang Dua".
Penjelasan lebih lanjut, kata dia, dua peningalan sejarah lain berupa "Sangkul Pinge" menjelaskan tentang "Kepemangkuan" di Pura Besakih dan "Purana Pura Besakih" yang keterkaitannya dengan Pura "Banua" di Besakih dan Pura "Banua" di Desa Bulian.
Suardana menambahkan, "Pasucian Ida Bhatara" di Desa Bulian memiliki tiga tempat suci yang terkait seperti Pura "Segara" Kubu Tambahan, Pura "Segara" penyusuhan yang berada di kec,Kubutambahan dan Pura Ponjok Batu di kec,Tejakula.
"Pura Ponjok Batu merupakan satu-satunya pura memiliki Tiga Bintang ("Bintang Tenggala, Sepit, dan Kartika") yang bersamaan muncul di pura tersebut dan sering disebut "Purwa Sidi" (Kekuatan Utama dari Timur)," katanya. (M038)
Pewarta: Oleh I Made Surya Wirantara Putra: M. Irfan Ilmie
COPYRIGHT © ANTARA 2026