Denpasar (ANTARA) - Forum Komunikasi Desa Wisata (Forkom Dewi) Bali mencatat terdapat dua desa wisata yang menunjukkan kenaikan jumlah pengunjung saat momentum libur panjang Hari Suci Nyepi dan Idul Fitri 2026.

“Kami melihat di Penglipuran dan Jatiluwih, kunjungan mengalami peningkatan kalau dibandingkan hari normal yang sebelum-sebelum ini,” kata Ketua Forkom Dewi Bali Made Mendra Astawa saat dikonfirmasi di Denpasar, Rabu.

Ia menjelaskan kenaikan kunjungan mulai terjadi sejak sehari sebelum Nyepi hingga Rabu.

Dalam sehari saat libur Lebaran, dua desa wisata tersebut dikunjungi 2.000-4.000 lebih wisatawan, melonjak dibandingkan hari biasa mencapai 1.000-2.000 orang.

“Contoh saja yang kemarin saya dapat info, untuk di Jatiluwih kenaikan 100 persen, kunjungan banyak domestik, kalau luar negeri memang libur panjang kali ini tidak ada pengaruh, karena masih low season,” ujarnya.

Meski dua desa wisata tersebut paling menonjol saat ini, Mendra menyebut ada desa wisata lain yang juga mulai digemari wisatawan seperti Desa Tenganan di Karangasem dan Desa Taro di Gianyar.

Namun, dua desa wisata itu memiliki luas area wisata yang tidak sebesar Penglipuran dan Jatiluwih sehingga dari segi kuantitas, tidak diperkirakan tidak dapat menampung lebih banyak kunjungan.

Melihat potensi itu, Forkom Dewi Bali mendorong seluruh desa wisata di Bali memanfaatkan momentum dengan mencari kekhasan masing-masing, sebab wisatawan saat ini mulai menggemari tren berwisata ke desa.

Mendra menyebut ini ada kaitannya dengan hobi wisatawan terutama wisatawan domestik mencari wisata hidden gem atau tersembunyi, dan semua itu ada di desa.

Hidden gem-nya apa, disini lah dituntut teman-teman desa wisata kalau ingin desa maju atau dikunjungi, buatlah sesuatu yang berbeda jangan meniru desa A dan B, perlu kiat-kiat khusus bagaimana mempromosikan diri karena mereka masing-masing punya keindahan tersendiri,” ujarnya.

Di momentum libur panjang ini, Forkom Dewi Bali juga melihat para wisatawan domestik didominasi berasal dari Pulau Jawa yaitu Surabaya, Jakarta, dan Bandung, dimana mereka banyak yang datang menggunakan mobil pribadi untuk mempermudah mengeksplorasi Bali.

Terlepas dari Desa Jatiluwih dan Desa Penglipuran yang kuantitas pengunjungnya tinggi, Mendra mengingatkan kepada masyarakat atau pengelola desa wisata bahwa yang terpenting adalah bagaimana kunjungan ke desa memberi manfaat ke masyarakat setempat, begitu pula bermanfaat ke wisatawan itu sendiri.

“Desa wisata itu menjadikan pariwisata tidak hanya sekadar jumlah kunjungan yang dikejar, tetapi kita melihat berapa besar memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat, ketimbang masuk hanya membuat tiket dengan harga Rp20 ribu padahal masyarakat yang ditampung lebih besar,” kata dia.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Pengelola Desa Wisata Penglipuran Wayan Sumiarsa membenarkan kenaikan kunjungan itu yakni dalam sehari bahkan hampir menyentuh 5.000 orang.

Ia memprediksi kondisi tersebut akan berlangsung hingga hari ini, sehingga masyarakat desa mempersiapkan diri dengan menampilkan desa yang bersih dan indah lengkap dengan atraksi budaya sebagai hiburan.

“Ada tren peningkatan kunjungan sejak 20 Maret, itu yang masuk 2.700 orang per hari, ada peningkatan lagi besoknya 4.100 kunjungan, dan terus meningkat sampai angka 4.500 lebih, ini diprediksi naik sampai 25 Maret ini, sehingga kami siapkan kunjungan yang berkesan," ujarnya.



Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © ANTARA 2026