Denpasar (Antara Bali) - Leluhur orang Bali dalam melestarikan lingkungan mengajak seluruh anak-anaknya membuat lubang dan menanam pohon kelapa sambil menggendong anaknya satu persatu.

Tradisi yang diwarisi hingga sekarang itu konon pohon kelapa yang ditanam itu kelak tumbuh subur, kuat dan berbuah lebat. Kearifan lokal itu disertai dengan memberi contoh lewat prilaku menancapkan ranting muda di atas batang pohon yang baru di tebang.

Pohon yang ditebang untuk keperluan membangun rumah atau bangunan fisik lainnya sengaja dipilih yang telah berumur belasan tahun atau ratusan tahun agar kualitasnya terjamin.

Prilaku menancapkan ranting di atas bekas pohon yang telah ditebang itu mengingatkan anak-anaknya untuk selalu menanam pohon baru sebagai pengganti pohon yang ditebang, sehingga kelestarian lingkungan akan terjamin sepanjang masa, tutur dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Dr Ketut Sumadi M.Par.

Pria kelahiran Gianyar 53 tahun yang silam itu menilai, tradisi dan kebiasaan leluhur orang Bali itu dapat diterapkan secara berkesinambungan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tidak sampai kehilangan sumber makanan, penghasilan maupun bahan untuk membangun perumahan.

Prilaku yang sangat sederhana yang hingga sekarang masih diterapkan sebagian besar masyarakat di daerah pedesaan Pulau Dewata itu mengandung nilai religiusitas yang multidimensi, karena di sana ada tuntunan praktis berkebun (bercocok tanam), tuntunan moral, kasih sayang dan bermain bagi anak-anaknya.

Para orang tua di Bali umumnya sejak dini telah menanamkan cara mendidik anak seperti sering didengungkan oleh para ahli pendidikan, bahwa belajar sambil bekerja.

Anak-anak dengan praktek langsung di lapangan akan lebih cepat menangkap dan dijamin bisa diingat seumur hidup. Metodelogi pembelajaran anak di Bali sangat sederhana, namun efektif dan terjamin keberhasilannya, tutur ayah dari dua putra itu.

Anak-anak sambil digendong mendengarkan petuah-petuah cara menanam, merawat dan kegunaan pohon kelapa atau manfaat tumbuh-tumbuhan lainnya bagi kelangsungan hidup manusia.

Cara yang diterapkan itu bagi anak-anak, selain mendapat teori atau nasehat yang bermanfaat untuk bercocok tanam, juga kesempatan untuk bermain-main, sekaligus kasih sayang yang tulus dari orang tuanya saat digendong.

Leluhur orang Bali melukiskan kehidupan yang harmonis dengan menjaga dan melestarikan lingkungan bersih dan hijau, guna mewujudkan kehidupan yang bahagia lahir bathin (Moksarham jagadhita).

Alumnus S-3 Kajian Budaya Universitas Udayana menilai itu menjelaskan, dalam salah satu kitab suci Agama Hindu Kekawin Nitisastra, leluhur orang Bali telah berhasil membangun kesadaran untuk melestarikan lingkungan.

Memelihara kelestarian lingkungan bagi leluhur orang Bali merupakan kewajiban suci sebagai pengamalan nilai ajaran agama. Perilaku bersahabat dengan alam, hidup nyaman dalam lingkungan yang bersih serta hijau diaplikasikan dalam pelaksanaan ritual Tumpek Bubuh (Tumpek Pengarah) yang jatuh pada Saniscara Kliwon Wariga, setiap enam bulan (210 hari) sekali.

Dengan demikian upaya mewujudkan Bali yang bersih dan hijau itu didukung konsep kategorisasi hutan yang selama ini dimiliki dan diterapkan masyarakat Bali dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Konsep yang menyangkut berbagai hal itu antara lain Sriwana, yakni kawasan hutan yang harmonis dengan daerah pemukiman, sekaligus mengatur tentang kawasan hutan yang harmonis dengan tempat suci (Tapawana) dan kawasan hutan yang harus dijaga kesuciannya sehingga tidak diganggu oleh mereka yang tidak bertanggungjawab (Mahawana).

Upaya tersebut disertai dengan melakukan penghijauan dan penanaman pohon, serta meningkatkan kesadaran dan perilaku masyarakat setempat tentang hidup bersih dan mewujudkan lingkungan sekitar masing-masing menjadi hijau.



Kurangi penggunaan plastik

Bali yang telah dicanangkan sebagai provinsi bersih dan hijau (Bali Green Province) kearifan lokal itu perlu terus disosialisasikan disamping meningkatkan kesadaran akan prilaku bersih dan hidup sehat.

Upaya itu mulai dari membuang sampah pada tempatnya, memisahkan sampah organik dengan nonorganik, mengurangi penggunaan plastik dan melakukan pendaurulangan sampah sebagai sumber energi yang berkelanjutan.

Upaya sosialisasi itu perlu dilakukan secara terus menerus ke masyarakat serta penyuluhan kepada anak-anak pelajar, sebagai upaya mempercepat terealisasinya Bali Green Province.

Ketut Sumadi yang juga Komunitas pengkajian agama, budaya dan pariwisata itu menjelaskan, masyarakat Bali dalam sistem bercocok tanam, baik di ladang maupun sawah memiliki pembagian waktu yang disebut Kertamasa.

Pembagian waktu itu didasarkan atas perhitungkan posisi bintang, bulan, dan matahari, sehingga masyarakat tani di Pulau Dewata memiliki bulan-bulan yang cocok atau tidak untuk menanam padi maupun tanaman palawija.

Kondisi demikian hendaknya dapat dimanfaatkan untuk menyukseskan "Bali Green Province" dengan mengarahkan petani untuk memanfaatkan pupuk ramah lingkungan, yang diproduksi petani setempat, sekaligus menghindari sedini mungkin penggunaan pupuk produksi pabrik maupun obat pembasmi hama yang mengandung zat kimia.

Untuk itu terobosan yang dilakukan Gubernur Bali Made Mangku Pastika dengan menguatkan identitas Bali sebagai provinsi organik dinilai sangat tepat dalam menjaga dan melestarikan lingkungan.

Hal itu secara tidak langsung bertujuan untuk melestarikan dan melindungi alam lingkungan Pulau Dewata. Pertanian organik dan industri organik merupakan upaya nyata ke arah terwujudnya Bali menjadi provinsi bersih dan hijau.

Pertanian dengan sistem organik sangat cocok dikembangkan di Pulau Dewata, selain dilandasi Bali cukup dikenal dunia internasional, sebagai darah tujuan wisata, banyak turis, terutama dari negara-negara di kawasan Eropa datang ke Bali untuk menikmati hidup.

Dengan pertanian organik wisatawan akan mendapat banyak keuntungan. Mereka bisa mendapatkan makanan, minuman serta lingkungan yang sehat, disamping mengangkat kehidupan masyarakat setempat ke arah yang lebih baik, tutur Jero Ketut Sumadi.

Namun di Bali sasaran yang ingin dicapai Bali itu menghadapi berbagai masalah lingkungan hidup yang cukup rumit, sebagai dampak negatif dari perkembangan pariwisata yang cukup pesat dalam beberapa tahun belakangan ini.

Demikian pula banyak objek wisata yang dikembangkan mencaplok lahan pertanian produktif, puluhan bahkan ratusan hektare dan menggusur atau mengganggu keberadaan tempat-tempat suci (Parahyangan) yang terdapat di lahan tersebut.

Selain itu juga mencaplok kawasan pantai, kemudian menutup fungsi pantai sebagai tempat suci bagi orang Bali dalam prosesi upacara Melasti, upacara menyucikan alam semesta dan menyucikan diri sendiri menjelang hari Suci Nyepi, tahun baru saka.

Keharmonisan hubungan manusia Bali dengan Tuhan Yang Maha Suci kini mulai terganggu, sehingga secara langsung berpengaruh buruk kepada sikap dan prilaku masyarakat setempat terhadap lingkungan dan sesamanya.

Fenomena yang muncul antara lain terjadinya kontradiksi antara tuntunan religius atau kearifan lokal warisan leluhur dengan hasrat hedonis pariwisata, tutur Ketut Sumadi. (WRA) 

Pewarta: Oleh I Ketut Sutika
: I Gede Wira Suryantala

COPYRIGHT © ANTARA 2026