Jakarta (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memandang tren penurunan suku bunga kredit perbankan masih akan berlanjut seiring penurunan suku bunga acuan (BI-Rate) sepanjang tahun lalu serta struktur pendanaan industri perbankan nasional yang membaik.

Pada Maret 2026, rerata tertimbang suku bunga kredit rupiah tercatat sebesar 8,76 persen, menurun sebesar 44 basis poin (bps) dibandingkan posisi Maret 2025 yang sebesar 9,20 persen.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, mengatakan penurunan suku bunga kredit terutama terjadi pada kredit produktif, baik kredit modal kerja maupun kredit investasi, sejalan dengan penurunan biaya dana dan kebijakan penurunan BI-Rate dalam setahun terakhir.

Ia menambahkan penurunan BI-Rate dari 5,75 persen pada Maret 2025 menjadi 4,75 persen pada Maret 2026 turut mendorong penurunan rerata tertimbang suku bunga dana pihak ketiga (DPK) rupiah menjadi 2,66 persen.

Secara umum, jelas Dian, transmisi penurunan BI-Rate terhadap suku bunga kredit memerlukan jeda waktu tertentu. Oleh karena itu, suku bunga kredit diperkirakan masih berada dalam tren menurun.

Namun, ia menegaskan penyesuaian suku bunga kredit pada masing-masing bank akan sangat bergantung pada strategi bisnis dan struktur biaya dana (cost of fund/CoF) masing-masing bank.

"OJK terus mengimbau perbankan agar secara bertahap menyesuaikan tingkat suku bunga kredit dengan tetap memperhatikan kondisi pasar dan menjaga rasio keuangan yang sehat," kata Dian.

Di tengah tren penurunan suku bunga tersebut, OJK menilai kondisi likuiditas perbankan nasional masih memadai untuk mendukung penyaluran pembiayaan kepada sektor riil, meskipun dinamika ekonomi global dan domestik masih berkembang.

Lebih lanjut, Dian menyampaikan bahwa pertumbuhan kredit perbankan ke depan tetap akan dipengaruhi oleh kondisi perekonomian dan iklim investasi.

Di sisi lain, prospek ekonomi domestik masih berada pada zona optimistis. Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2026 sebesar 122,89 dan PMI Manufaktur Indonesia yang tetap ekspansif di level 50,1.

"Indikator tersebut menunjukkan konsumsi rumah tangga dan aktivitas manufaktur nasional masih terjaga dengan baik sehingga dapat mendukung pertumbuhan kredit perbankan ke depan," ujar Dian.



Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © ANTARA 2026