"Ini bisa dibuktikan dengan subak yang saat ini sudah diakui sebagai warisan Budaya Dunia oleh UNESCO," katanya saat menerima audiensi dari jajaran Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali, di ruang kerjanya, di Denpasar, Selasa.
Namun, sampai saat ini permasalahan yang sedang dipelajarinya adalah supaya bisa meningkatkan kesejahteraan petani sehingga mereka tetap mau bekerja sebagai petani.
"Pekerjaan petani ini sangatlah kompleks cakupannya. Kalau mereka penghasilannya pas-pasan terus tanpa ada upaya dari pemerintah untuk membantu meningkatkan kesejahteraannya, sudah tentu pekerjaan petani ini akan semakin ditinggalkan," ucapnya.
Oleh karena itu, ia berharap saran dan masukan dari pihak HKTI maupun ahli-ahli pertanian di Bali untuk sama-sama memikirkan solusi membangun pertanian.
"Dengan demikian, Pemerintah Provinsi Bali bisa membuat kebijakan yang tepat dan bisa meningkatkan kesejahteraan petani yang akan berdampak pada kelanjutan pertanian di daerah kita, sebagai salah satu ikon daya tarik wisata," katanya.
Sementara itu, Ketua HKTI Bali Prof Dr Nyoman Suparta menyampaikan HKTI sebagai organisasi sosial di bidang pertanian punya kewajiban untuk ikut berupaya membangun pertanian, ditengah banyak hambatan yang menghadang.
"Daerah kita masih dihadapkan pada masalah lahan yang semakin sempit karena digunakan untuk pembangunan. Bahkan yang paling santer saat ini menyangkut kesejahteraan petani," ujarnya.
Kesejahteraan petani, ujar dia, belum bisa sepenuhnya ditangani mengingat sebagian besar penduduk miskin di Bali masih berada pada sektor pertanian.
Ia meminta Pemprov Bali agar betul-betul bisa menyempurnakan program untuk kemajuan petani Bali dan menambah anggarannya. (LHS)
Editor : Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.