Denpasar (Antara Bali) - Ketua Pusat Penelitian Subak (PPS) Universitas Udayana Denpasar Prof I Wayan Windia menilai Sistem Pertanian Terintegrasi (Simantri) dalam pengembangan sektor pertanian di Bali melemahkan posisi subak sebagai organisasi pertanian tradisional.

"Pemerintah provinsi Bali membuat lagi organisasi baru yang disebut dengan Gapoktan dan fenomena ini sangat melemahkan subak sehingga ada potensi konflik antara subak dengan Gapoktan pada masa mendatang," kata guru besar Fakultas Pertanian Unud itu di Denpasar, Minggu.

Menurut dia, kondisi tersebut menyebabkan organisasi subak merasa tersisih karena tidak sanggup melawan pihak-pihak eksternal yang melakukan intervensi di wilayah subak.

Padahal subak selama ini dinilai terbaik di antara sistem pertanian yang ada di Indonesia dan di berbagai negara sehingga perlu dipertahankan dan dilestarikan.

Windia yang juga mantan anggota DPR-RI itu mengkhawatiran kerawanan terjadi konflik karena keberadaan Simantri yang baru dibentuk itu tidak bernaung di bawah subak.

Organisasi pengairan tradisional dalam bidang pertanian yang diwarisi secara turun-temurun di Bali itu sebaiknya menanungi keberadaan Simantri yang ada di wilayah subak masing-masing. Dengan cara itu sekaligus mampu memberdayakan petani yang terhimpun dalam wadah subak. (LHS)



: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026